biarlah gelas menjadi saksi; betapa ku mencinta(mu)

biarlah gelas menjadi saksi; betapa ku mencinta(mu)
karena cinta yang sederhana tidak pernah menuntut.

Minggu, 03 Januari 2016

Mari Melepaskan

"Mari melepaskan, agar ada cukup tempat untuk menggenggam kembali"
Saul Raja Sinaga

Saya belajar banyak tentang melepaskan. Bukan sekali dua kali saya melepaskan. Dari hanya sekedar belajar melepaskan, sampai betulan melepas, dan di detik yang sama hati saya hancur, sebagiannya ingin masih terus menggenggamnya, memperjuangkan.

Tapi kemudian saya sadar, tangan saya hanya ada 2. Hati saya hanya ada satu. Terlalu banyak menggenggam akan menghancurkan saya sendiri. Saya, harus melepas yang tidak baik untuk saya. Untuk menggenggam yang baru, yang lebih baik untuk saya.

Lengkap sudah. Saya, bukan orang yang plin-plan. Terlalu tinggi harga diri saya untuk mencela sesuatu, kemudian balik mencintainya dengan gila, tanpa ingat betapa jahat saya sudah mencelanya kemarin.

Biarlah, saya bangga. Saya bangga telah berhasil melepaskan. Menggenggam yang baru, membawa kebahagiaan untuk saya. Saya merasa menjadi baru.

Biarlah, saya bangga. Saya bangga 10 atau 20 tahun kedepan saya bisa bangga menceritakan bahwa kamu pernah saya genggam sedemikian erat. Saya bisa berkata kepada anak saya, "Nak, dulu Mama ngefans sekali loh dengan dia. Tapi karena satu dan lain hal, Mama berhenti menyayanginya. Perkara waktu, sayang."

Biarlah, saya bangga. Pengalaman saya mengidolakan dia akan membuat saya mengerti, kalau suatu hari nanti anak saya memiliki seorang idola dan dia akan segila itu kepada idolanya.

Maaf, saya pergi. Kamu menempati tempat khusus di hati saya, saya tidak akan munafik untuk berkata kamu sudah seutuhnya pergi. Tapi sekarang, cukup dengan mendengar lagumu saja, ya. Sudah terlalu banyak saya membuang uang dan waktu saya untuk kamu. Bagi-bagi, ya. Kasian Pentatonix saya, baru 1 kali didatengin konsernya. Itu juga tiketnya jauh lebih murah dari konser-konser kamu yang pernah saya datangi.

Terimakasih, ya. Saya akan berusaha tegar dalam hidup ini. Seperti lagumu itu.

Rabu, 30 Desember 2015

2015.

Tidak terasa, hari ini sudah tanggal 31 Desember 2015. Hari terakhir di 2015. Hari yang membuat saya merenung, memikirkan apa saja yang sudah saya lakukan dan yang sudah terjadi di 2015 ini.

2015 merupakan tahun di mana saya membuang-buang waktu saya, seolah waktu adalah sesuatu yang bisa saya peroleh kembali. 2015 merupakan tahun di mana saya membuang waktu saya untuk hal tidak penting, dan disaat bersamaan juga saya berlari, marathon dengan waktu, mengejar kelulusan saya di kampus. Berkebut dengan waktu, berharap semua akan berjalan lancar dan studi saya akan habis pertengahan tahun 2016.

2015 merupakan tahun gado-gado bagi saya. Melupakan idola lama saya, setelah sekian tahun dia merupakan poros hidup saya. Memang ya manusia, tinggal tunggu jenuhnya saja. Padahal saya pikir, saya tidak akan pernah bisa lepas dari dia, loh.

2015 tahun saya punya obsesi baru. Meskipun rata-rata baru memulai obsesi sejak 2014, tapi baru tekun fangirling di tahun 2015 ini.

2015 ini saya datang ke konser live Pentatonix. Konser yang selamanya mungkin hanya menjadi mimpi saya. Tidak setitik pun datang pemikiran bahwa mereka akan datang ke negara saya dan mengadakan konser. Malam itu, 31 Mei 2015, saya kategorikan dalam deretan malam paling indah yang pernah terjadi di hidup saya.

2015 ini saya belajar, bahwa perasaan cinta kepada lawan jenis adalah hal yang bodoh untuk dikhawatirkan di umur sekarang. Iya, saya sudah 21 tahun. So what? Kuliah juga belum kelar.

2015 menempa saya menjadi sosok yang lebih sarkastis. Moto "I hate people" semakin saya junjung, mengingat beberapa manusia yang saya letakkan kepercayaan telah menghancurkannya berkeping, menyapunya seperti percaya bukan sesuatu hal yang penting.

2015 membuat saya merasa saya pantas kuliah pendeta. Masalah internal yang membuat saya percaya diri menyelesaikannya. Jungkir balik kisah hidup saya dan keluarga di tahun ini, entah mengapa membuat iman saya semakin kuat. Saya jadi semakin percaya ada satu kekuatan luar biasa yang mengatur jalannya hidup dan kehidupan. Betapa ajaib kekuatanNya.

2015, terutama akhir-akhir tahun ini, tahun terakhir kuliah saya. Tiada hari tanpa mengeluh, tiada hari tanpa lelah. Pontang panting kesana kemari demi menyelesaikan semua yang harus saya selesaikan, sampai rasanya saya tidak sanggup lagi memikirkan sesuatu hal yang bisa cukup kuat untuk membuat saya waras.

2015, berlalu seperti hanya seminggu. Saya merasa waktu berjalan terlalu cepat, tapi di saat bersamaan saya pun tidak dapat banyak mengingat apa saja yang sudah terjadi di tahun ini. Mungkin karena saya telah menutup rapat hati saya, menguncinya, dan tidak membiarkan sembarang orang (dan perasaan) masuk.

2015 yang indah. 2015 yang kuat. 2015 yang sedih, tapi bisa dilalui dengan baik. 2015 yang sedikit banyak telah mengubah saya menjadi sosok lebih baik (mungkin).

Terimakasih...
*menunduk sopan, berbisik terimakasih kepada alam, semesta, apapun yang telah berharmonisasi memberi hidup dan kehidupan*


dear 2016, saya siap.

Senin, 14 Desember 2015

Life Changing

Sejak tahun 2012 saya merantau ke negeri orang, sudah banyak sekali hal yang berubah dari diri saya. Sudut pandang, kepribadian, kemandirian.. Kalau sebelum merantau saya adalah anak manja yang semua maunya harus dituruti, sekarang sih, well, sama aja *halah*

Tapi ya gitu, i'm glad my parents send me aboard to study. Life changing yang sungguh changing me to be a better person.

Satu yang saya selalu khawatir sejak awal keputusan saya mau kuliah dan merantau adalah, "nanti gereja di mana, ya?" karena saya adalah orang yang (sok) religius. Tapi serius, 1 kali aja ga gereja, rasanya ga tenang seminggu kedepan, ada aja yang salah.

Saya udah khawatir banget, dan ternyata, tangan Tuhan jauh lebih ajaib daripada pemikiran manusia. Baru sekian menit sampai di sini, saya sudah langsung bertemu dengan saudara seiman, ya meskipun dia katolik dan saya protestan, tapi tetap saja, saya langsung tenang. "Wah, saya ada temen ke gereja!" pikir saya waktu itu.

Dan tara, Holy Family Church Kajang menjadi rumah saya sejak tahun 2012 sampai pertengahan 2015 kemarin. Gereja mereka yang katolik, yang notabene berbeda dari agama saya yang sebenarnya adalah protestan, tidak pernah menjadi masalah untuk saya. Karena di sana, saya menemukan keluarga. Saya menemukan semangat. Saya menemukan tawa, yang memotivasi saya, memberi saya semangat menjalani hari untuk seminggu kedepannya. Selain ibadah rutin hari minggu, kami selalu latihan paduan suara hari jumat. Dan setiap sabtu atau minggu setelah ibadah, kami luangkan waktu untuk rutin nongkrong bareng, mengakrabkan diri.

My second family.

Sedihnya, pertengahan tahun 2015 ini, bulan Juni lebih tepatnya, saya memutuskan angkat kaki dari gereja ini. Perpisahan itu bukan hal yang mudah. Perubahan juga bukan hal yang mudah, tidak semua orang menyukainya. Kepergian saya yang tanpa mengucapkan selamat tinggal menghancurkan hati saya sendiri. Saya menuliskan kisahnya di sini.

Sejak Juni 2015, saya mencari gereja baru. Lagi-lagi, tangan Tuhan yang ajaib itu menuntun saya. Perlahan, menuju rumahNya, tempat saya bisa memuji dan memuliakan namaNya. Terbawalah saya ke Gereja Berita Injil Antiokhia. Tempatnya, wiiih luar biasa jauh dari daerah rumah saya. Tapi itulah, tangan Tuhan bisa aja bawa saya kesana.

Di sana, lagi-lagi saya menemukan keluarga baru. Mereka yang menerima saya apa adanya. Mereka yang paham permasalahan saya. Mereka yang mau mendengar cerita saya. Mereka yang siap dengan sejuta leluconnya, membuat kami semua tertawa.

Di sana, saya menemukan kenyamanan baru. Perihal kami yang harus berputar sana sini, bolak balik stasiun kereta demi menempuh perjalan ke gereja sana, tidak pernah kami jadikan masalah. Rasa damai itu, mahal untuk didapat. Tidak akan saya buang begitu saja.

Keluarga baru saya.

Sedih, baru bertemu mereka di tahun terakhir kuliah saya di sini. Setelah ini, terserah tangan Tuhan mau membawa saya kemana. Tapi untuk sekarang, saya bersyukur, untuk keluarga baru saya. :)

*post ini ditulis setelah berhasil move on.. kemarin2 tiap hari minggu, dalam hati selalu ngomong "kangen holy family deh.. pengen gereja di sana, deh.."

Sabtu, 05 September 2015

Perihal Memberi

Ku beri kau segalanya.

Segala, seisi bumi;
Segala, setiap hela napas;
Segala, peluh keringat perjuangan;
Segala, percik darah pengorbanan;
Segala, tetes air mata;
Segala, rindu tak tersampaikan;
Segala, cinta tak terucap.

Kau beri aku satu;

Satu, maaf.

Kamis, 21 Mei 2015

Kepada Lelaki Yang Sedang Memperjuangkan Masa Depan

Kepada para lelaki di luar sana yang sedang memperjuangkan masa depan, topi saya terangkat tinggi untuk kalian.

Kepada kalian yang belajar mati-matian demi mengejar gelar demi karir masa depan yang lebih baik, berjuanglah.

Kepada kalian yang berusaha mati-matian memulai bisnis dari titik nol, berkutat dengan sistem untung dan rugi yang tidak bisa dihindari dari berbisnis, berjuanglah.

Kepada kalian yang terjebak jam kantor 7 pagi sampai 5 sore, duduk di belakang meja kerja dengan komputer dan tangan yang tidak berhenti mengetik pekerjaan, berjuanglah.

Kepada kalian yang belajar mengenai cara menyelamatkan hidup seseorang melalui bantuan kalian, berjuanglah.

Selesaikan apapun yang menjadi kewajiban kalian. Usahakan masa depan kalian secerah mungkin.

Karena kelak, ada perempuan yang rela meninggalkan rumahnya yang nyaman, orang tuanya yang begitu memperhatikan dia dan menyayanginya, demi kalian. Demi kalian tinggal-tinggal setiap hari saat kerja. Demi menjadi sasaran omelan kalian ketika ada sesuatu yang tidak beres dengan pekerjaan kalian. Demi menyuguhkan segelas teh hangat beserta sepiring kue setiap kalian pulang kerja. Demi menyiapkan baju kerja kalian saat kalian akan berangkat kerja.

Berjuanglah. Karena kelak kalian tidak hanya berjuang untuk hidup demi diri kalian sendiri, tapi juga demi istri dan anak-anak kalian.

Berjuanglah, dan jemput masa depan yang cerah itu.

Minggu, 17 Mei 2015

Sorry For Not Saying Goodbye Properly

Saya sungguh belum paham apa itu menjadi dewasa. Sungguh. Saya baru berusia 20 tahun, dan kalau boleh jujur, umur dan tingkat kedewasaan saya sungguh tidak berbanding.

Saya hanya seorang anak perempuan manja bermental usia belasan tahun yang terjebak di tubuh seorang perempuan yang (harusnya) beranjak dewasa.

Keputusan yang saya ambil, biasanya kebanyakan hanya berdasarkan emosi sesaat. Jarang saya pikirkan matang-matang. Jarang saya pikirkan konsekuensinya. Dan tidak jarang pula saya menyesal. Kali ini, satu lagi dari sekian banyak keputusan yang membuat saya menyesal.

Saya, yang dulu dengan tegasnya memilih meninggalkan mereka. 1 kesalahan seseorang, membuat saya sungguh tidak sanggup lagi berada dalam komunitas itu. Saya memilih pergi, sungguh dengan alasan kekanak-kanakan. Anak kecil dalam diri saya sungguh berhasil menang.

Dan sekarang, saya merindukan mereka. Tapi, saya menegaskan kepada diri saya. Ini keputusan yang saya ambil dengan begitu yakinnya beberapa bulan lalu. Biarlah, biar saya menikmati semua akibatnya.

Semoga saja ini bisa disebut belajar untuk beranjak dewasa. Karena saya yakin benar, kalau saya lagi-lagi membiarkan gadis kecil nan egois itu menang, saya akan memutuskan untuk kembali pada zona nyaman saya. Pada mereka yang sebenarnya sungguh tidak sebanding saya tinggalkan karena 1 masalah yang sebenarnya sama sekali bukan salah mereka.

Namun, biarkan malam ini saya mengaku. Saya rindu mereka. Sedikit banyak mereka punya tempat yang istimewa di hati dan hidup saya. Sedikit banyak, mereka yang membuat saya bertahan. Maaf, saya meninggalkan kalian untuk sesuatu yang bukan salah kalian. Maaf.

I'm sorry. Sorry for not say goodbye properly.

Rabu, 08 April 2015

Perihal Kecewa

Hari ini, saya memutuskan meninggalkan mereka. Mereka yang selalu bersama saya melayani Tuhan hampir 3 tahun ini. Meninggalkan mereka karena satu dan lain alasan yang sebenarnya justru tidak ada hubungannya dengan mereka. Ini perihal kecewa. Perihal kepercayaan yang sudah dengan mudahnya dirusak.

Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang mampu mengukur seberapa dalamnya rasa kecewa. Rasa sedih dan putus asa saat harapan satu-satunya dirusak begitu saja. Dan seberapa jauh dampak dari rasa kecewa itu.

Sungguh, saya sedih. Sedikit banyak, mereka adalah sumber tawa saya. Bertemu hanya satu atau dua kali seminggu, sudah cukup mengisi baterai saya seminggu kedepan. Betapa tertawa dan menyanyi bersama mereka menghibur saya.

Berat sekali meninggalkan mereka. Satu orang dari mereka merupakan salah satu endless crush saya, yang sudah sejak awal mula saya menginjakan kaki di gereja itu dan bertemu dia, sudah saya kagumi luar biasa. Dan rasa itu masih ada sampai sekarang. Berat sekali memikirkan bahwa saya tidak akan bertemu lagi dengan dia.

Ini, perihal kecewa, sayang. Tidak ada yang sanggup mengobati kepercayaan yang telah rusak. Tapi, saya harus kuat. Ini keputusan saya. Bukankah saya sudah sering belajar, bahwa
setiap pertemuan, pasti berakhir dengan perpisahan?
Terimakasih, kalian. Sekali lagi terimakasih.

i'm sorry i left. i do. sorry.