Dalam episode, mungkin posting terakhir di 2014. tapi suwer deh kalau ada waktu, sebelum tahun baru diusahain nulis lagi. Kalau sebelum natal, maap maap aja ya, uda nyerah duluan. acara padet banget bruh.
Jadi kemaren pergi ke The Mines, mall andalan satu semesta jagat raya karna jaraknya yang deket luar biasa sama kampus, dan apa aja udah tersedia di sana, jadi jarang deh ke mall lain. Kecuali kalau iseng dan pengen chilin doang.
Pergi ke mines dalam rangka belanja baju natalan. Uda 2 kali jalan, belum nemu baju yang cucok. Dengan tinggi badan (di bawah) rata-rata, cewek nyebelin ini tetep kekeuh mau pake long dress, jadilah semua yang dicoba kalau bukan kepanjangan, model atau warnanya ga sreg. Berubung kemaren sudah tanggal 17, dan saya pulang tanggal 19 sementara tanggal 18 ada kelas sampai jam 10 malam, so bener-bener ga ada waktu lagi untuk cari baju selain hari itu.
Sampai mines, bukannya buruan cari baju, malah pake acara makan dulu (biasalah ya) terus pake acara ke depan bioskop, karena di sana ada poster Horrible Bosses 2 segede gaban, demen aja ngeliatnya. Mesti senyam senyum ga jelas tiap liat muka Jennifer di situ.
Biasanya cuma berani liat doang, ga pernah berani foto karena emang di situ tempat antri untuk beli tiket bioskop so pasti lah rame banget. Tapi mungkin karna hari kerja, jam kerja pula, eh sepi banget loh. Dan dengan ajaibnya, saya memutuskan selfie. Dengan gerakan yang mengagumkan karna saking cepetnya, saya selfie. Dengan muka sumringah. Bujug dari jauh juga keliatan banget deh muka bahagianya saya :))
Berubung foto sama Jennifernya langsung susah banget kan ya pasti (kalau mau ngomong halus dari ga mungkin) so berfoto dengan posternya sedikit menghibur.
Abaikan saya yang lupa lepas kacamata dan betapa close up nya muka saya. Ini juga uda setengah mati tauk nyatuin muka Jennifer sama muka saya di satu frame dengan gerakan cepat supaya ga diliat orang-orang :))
Ini mah namanya, Rachel mencari Rachel..
Dan dengan rendah hati mengakui, betapa saya menjadi oon banget setelah rutin gila dengan Friends. Ngikutin oonnya Rachel gitudeh. Dan gitu juga masih kekeuh nonton Friends terus :)) dan bisa bangganya memberi judul dari posting ga penting ini sebagai judul Rachel mencari Rachel.
By the way besok saya pulang kampung. Hati-hati juga ya yang mau natalan di rumah. Happy Holiday, salam buat keluarganya :) udah niat upload soundcloud dalam edisi natal kayak tahun lalu, tapi sibuknya dah ngalah2in eksekutip muda di perusahaan terkenal. so enggak dulu lah. kalau mau bisa download iTunes atau beli CD Pentatonix aja yang album That's Christmas To Me. lagu natalnya ketje ketje
Sekian post ga penting ini. Nulisnya tengah malam dan besok ke airport subuh2 huehehehe.
HAPPY HOLIDAY GAES.
tak selalu tentang warna. karena hidup, lebih banyak mengajarkan kepadamu tentang hitam putih.
Kamis, 18 Desember 2014
Rabu, 03 Desember 2014
Halo, Desember
Telat 3 hari, tapi gapapa lah ya.. lebih baik daripada ga sama sekali, kan :D masih aman, asal bukan telat yang lain aja...
telat masuk kelas, maksudnya......
akhirnya desember juga! kalau kata judul lagu sih, "It's the most wonderful time of the year" kenapakah kenapa? karna tentu saja, SALJU!! *dalam mimpi*
bukan, ya karna desember. bulan paling terakhir dalam sebuah tahun. si bungsu yang banyak ditunggu orang banyak, banyak juga ditakuti. ditunggu karna liburnya, natalnya, suasananya, diskon akhir tahunnya...
ditakuti karna, buat yang kantoran, biasanya harus ada laporan akhir tahun dan apalah itu, which is deadline deadline deadline dan deadline.
kalau buat saya, sih, desember adalah yang paling indah. bahkan dibandingkan juli yang notabene adalah bulan kelahiran saya, saya lebih suka desember. sebagai salah satu yang merayakan natal, segala hal tentang desember selalu menarik buat saya. suasana natal, dekorasi natal, lagu-lagu natal yang rasanya afdol banget kalau didengernya pas uda desember.
belum lagi sejak 2 tahun lalu saya hijrah ke negeri tetangga seberang. dekorasi di sini, luar biasa banget kalau natal. pohon natal setinggi harga diri kamu yang tidak tergapai itu, dengan segala hiasan macem-macem. cantik pokoknya!
sayangnya,cewek cantik ini saya masih belum sempet jalan-jalan dan foto-foto dekorasi natalnya. belum ada waktu ke mall *cailah* *pelajar berdedikasi ceritanya* rencananya mau sempetin jalan-jalan emang. window shoping gitu. cuma sih bener-bener dipastiin aja windownya ditutup rapet-rapet. takut elang nyerbu masuk terus manas-manasin supaya borong diskon akhir tahun. bisa-bisa saya balik ke sini habis liburan nanti numpang di roda pesawat, deh.
satu hal lagi paling menyenangkan tentang desember. mungkin waktu yang paling tepat merenung apa aja yang sudah didapatkan (dan diperbuat) tahun ini, dan juga merenung dan merencanakan apa yang akan dilakukan tahun depan.
2015 bakal menjadi tahun yang sibuk buat saya. perlu punggung dan kepala yang lebih kuat kalau gamau mendadak naik ke lantai 18 terus nyebur ke construction site samping kondo bersama piling-piling itu *ngomong apa sih*
yaudahlah, HAPPY HOLIDAY LOH buat yang liburan. semangat buat yang kejar deadline, selamat natal duluan buat yang natalan. enjoy your time with your family and people who love you. BHAAAYYY *kiss kiss*
telat masuk kelas, maksudnya......
akhirnya desember juga! kalau kata judul lagu sih, "It's the most wonderful time of the year" kenapakah kenapa? karna tentu saja, SALJU!! *dalam mimpi*
bukan, ya karna desember. bulan paling terakhir dalam sebuah tahun. si bungsu yang banyak ditunggu orang banyak, banyak juga ditakuti. ditunggu karna liburnya, natalnya, suasananya, diskon akhir tahunnya...
ditakuti karna, buat yang kantoran, biasanya harus ada laporan akhir tahun dan apalah itu, which is deadline deadline deadline dan deadline.
kalau buat saya, sih, desember adalah yang paling indah. bahkan dibandingkan juli yang notabene adalah bulan kelahiran saya, saya lebih suka desember. sebagai salah satu yang merayakan natal, segala hal tentang desember selalu menarik buat saya. suasana natal, dekorasi natal, lagu-lagu natal yang rasanya afdol banget kalau didengernya pas uda desember.
belum lagi sejak 2 tahun lalu saya hijrah ke negeri tetangga seberang. dekorasi di sini, luar biasa banget kalau natal. pohon natal setinggi harga diri kamu yang tidak tergapai itu, dengan segala hiasan macem-macem. cantik pokoknya!
sayangnya,
satu hal lagi paling menyenangkan tentang desember. mungkin waktu yang paling tepat merenung apa aja yang sudah didapatkan (dan diperbuat) tahun ini, dan juga merenung dan merencanakan apa yang akan dilakukan tahun depan.
2015 bakal menjadi tahun yang sibuk buat saya. perlu punggung dan kepala yang lebih kuat kalau gamau mendadak naik ke lantai 18 terus nyebur ke construction site samping kondo bersama piling-piling itu *ngomong apa sih*
yaudahlah, HAPPY HOLIDAY LOH buat yang liburan. semangat buat yang kejar deadline, selamat natal duluan buat yang natalan. enjoy your time with your family and people who love you. BHAAAYYY *kiss kiss*
Sabtu, 22 November 2014
Aku Ada
Dalam diam, dalam semua perbuatan yang sungguh tidak perlu digegap gempitakan oleh suara. Dalam setiap hela napas yang jelas nampak betapa aku mencintai kamu.
Dalam setiap tatapan mata dan kecupan kecil yang istimewa bagiku. Dalam setiap kesempatan untukku menjadi yang satu-satunya bagimu.
Dalam setiap kesempatan melindungimu dari apa-apa saja, dalam setiap di mana aku jelas bisa menjadi yang kau andalkan.
Dalam setiap sandaran yang kau cari saat kau kelelahan, aku selalu ada.
Dalam setiap kalimat sederhana yang tanpa sengaja aku ucapkan, justru adalah tempat yang paling jelas menyatakan betapa aku memujamu.
Dalam setiap sikap posesif yang tidak pernah bisa kamu fahami, aku ada. Melindungimu mati-matian dengan caraku yang mungkin selalu gagal kamu mengerti.
Dalam setiap pertengkaran di mana aku gagal memberitahumu dengan lugas betapa aku cemburu. Betapa aku tidak ingin kamu dimiliki orang lain. Betapa aku ingin kamu hanya menjadi milikku.
Dalam setiap hembusan angin, hanya namamu yang sungguh bergema dalam setiap ruang di pikiranku.
Dalam setiap penolakan dan pembuanganmu atas diriku, dan setiap kebodohan yang aku lakukan; terlunta-lunta kembali kepadamu. Seperti seekor anak kucing yang telah dibuang jauh tapi tetap bisa kembali menemukan jalan pulang. Menyedihkan
Dalam setiap ketiadaan, aku ada.
Dalam setiap tatapan mata dan kecupan kecil yang istimewa bagiku. Dalam setiap kesempatan untukku menjadi yang satu-satunya bagimu.
Dalam setiap kesempatan melindungimu dari apa-apa saja, dalam setiap di mana aku jelas bisa menjadi yang kau andalkan.
Dalam setiap sandaran yang kau cari saat kau kelelahan, aku selalu ada.
Dalam setiap kalimat sederhana yang tanpa sengaja aku ucapkan, justru adalah tempat yang paling jelas menyatakan betapa aku memujamu.
Dalam setiap sikap posesif yang tidak pernah bisa kamu fahami, aku ada. Melindungimu mati-matian dengan caraku yang mungkin selalu gagal kamu mengerti.
Dalam setiap pertengkaran di mana aku gagal memberitahumu dengan lugas betapa aku cemburu. Betapa aku tidak ingin kamu dimiliki orang lain. Betapa aku ingin kamu hanya menjadi milikku.
Dalam setiap hembusan angin, hanya namamu yang sungguh bergema dalam setiap ruang di pikiranku.
Dalam setiap penolakan dan pembuanganmu atas diriku, dan setiap kebodohan yang aku lakukan; terlunta-lunta kembali kepadamu. Seperti seekor anak kucing yang telah dibuang jauh tapi tetap bisa kembali menemukan jalan pulang. Menyedihkan
Dalam setiap ketiadaan, aku ada.
Kamis, 20 November 2014
Super (galau dan gila) Trivia
Jadi hari ini, lagi super duper iseng dan kurang kerjaan. Cari-cari twit lama, sampai jaman tahun 2012an. Sampe di bulan november, terus kebaca sesuatu. Lah..... di sini kan mulai jaman-jamannya habis diphp tuh....... kemudian, ngakak-ngakak sendiri.
Mulai dari twit pertama kali liat dia, setelah sekian lama cuma chat doang. Trus pertama kali nonton bareng, terus galau-galaunya... semuanya lengkap.
Sebagian diri rasanya sedih. Sebagian diri ngakak. Sebagian diri geli. Sebagian lagi (banyak, ya, bagiannya) sadar bahwa saya memang sesayang itu (dulu) sama dia.
Inget betapa senengnya pertama kali nonton bareng dulu. Inget betapa gemesnya kalau uda dia bertingkah macem-macem. Inget betapa paniknya dia waktu saya sampai sini dan gabisa dibbm karna jaringan waktu itu lagi eror dan ujung-ujungnya dia sms dan saya ga buka henpon satunya dan dia panik dan paginya baru saya balas dan dia marah-marah....
Ada juga saat saya sedang stress banget dengan ujian saya, dan kamu malah bbm dengan konyol dan saya bukannya kesel, tapi malah seneng banget.. Saat kamu ada flight pagi, minta aku bangunin tidur jam 6, ternyata malah akunya sendiri yg bangun jam 8.30. hahaha.
Ada juga waktu saya cemburu. Kamu ga bales bbm tapi malah twitteran *dengan twitter via blackberry, plislah* dan kemudian saya kepikiran buat unfollow kamu..
Semester pertama saya di sini, menjadi saksi, betapa satu kalimat bbm dari kamu bisa membuat saya semangat belajar. Betapa kalimat "cyn baik-baik ya, kuliahnya. cepat lulus" bisa begitu memotivasi saya (bahkan sampai sekarang). Betapa khawatirmu saat asma saya kambuh sementara kamu tidak tahu harus berbuat apa malah membuatku tertawa, merasa kamu mengkhawatirkanku selamanya akan menjadi hal paling lucu sedunia.
Semua tersimpan dengan baik, termuseum di twitter saya.
Its been 2 years.. kamu tidak seistimewa dulu, tapi tetap punya tempat khusus di hati saya. 2 minggu lalu, saya melihatmu. Dengan dia yang baru yang mungkin saja begitu bisa membahagiakanmu lebih dari saya membahagiakanmu. Selamat, ya. I'm so happy for you.
Semoga pencarianmu sungguh berhenti di dia, ya. Saya ikut bahagia.
Maaf, saya tidak mungkin melupakan kamu, dan semuanya. You're part of my life. How am i supposed to erase you from my life? Tapi, sungguh saya sudah bisa menerima semuanya sekarang. Fakta bahwa saya pernah menyayangimu dengan begitu, membuat saya sekarang sadar. Kamu berhak bahagia.
Terimakasih, untuk kebahagiaan yang pernah kamu tawarkan dan berikan. Dari membaca ulang semua status twitter saya, saya sungguh sadar, kamu pernah begitu berharga. Dan saya, pernah begitu bahagia.
Mulai dari twit pertama kali liat dia, setelah sekian lama cuma chat doang. Trus pertama kali nonton bareng, terus galau-galaunya... semuanya lengkap.
Sebagian diri rasanya sedih. Sebagian diri ngakak. Sebagian diri geli. Sebagian lagi (banyak, ya, bagiannya) sadar bahwa saya memang sesayang itu (dulu) sama dia.
Inget betapa senengnya pertama kali nonton bareng dulu. Inget betapa gemesnya kalau uda dia bertingkah macem-macem. Inget betapa paniknya dia waktu saya sampai sini dan gabisa dibbm karna jaringan waktu itu lagi eror dan ujung-ujungnya dia sms dan saya ga buka henpon satunya dan dia panik dan paginya baru saya balas dan dia marah-marah....
Ada juga saat saya sedang stress banget dengan ujian saya, dan kamu malah bbm dengan konyol dan saya bukannya kesel, tapi malah seneng banget.. Saat kamu ada flight pagi, minta aku bangunin tidur jam 6, ternyata malah akunya sendiri yg bangun jam 8.30. hahaha.
Ada juga waktu saya cemburu. Kamu ga bales bbm tapi malah twitteran *dengan twitter via blackberry, plislah* dan kemudian saya kepikiran buat unfollow kamu..
Semester pertama saya di sini, menjadi saksi, betapa satu kalimat bbm dari kamu bisa membuat saya semangat belajar. Betapa kalimat "cyn baik-baik ya, kuliahnya. cepat lulus" bisa begitu memotivasi saya (bahkan sampai sekarang). Betapa khawatirmu saat asma saya kambuh sementara kamu tidak tahu harus berbuat apa malah membuatku tertawa, merasa kamu mengkhawatirkanku selamanya akan menjadi hal paling lucu sedunia.
Semua tersimpan dengan baik, termuseum di twitter saya.
Its been 2 years.. kamu tidak seistimewa dulu, tapi tetap punya tempat khusus di hati saya. 2 minggu lalu, saya melihatmu. Dengan dia yang baru yang mungkin saja begitu bisa membahagiakanmu lebih dari saya membahagiakanmu. Selamat, ya. I'm so happy for you.
Semoga pencarianmu sungguh berhenti di dia, ya. Saya ikut bahagia.
Maaf, saya tidak mungkin melupakan kamu, dan semuanya. You're part of my life. How am i supposed to erase you from my life? Tapi, sungguh saya sudah bisa menerima semuanya sekarang. Fakta bahwa saya pernah menyayangimu dengan begitu, membuat saya sekarang sadar. Kamu berhak bahagia.
Terimakasih, untuk kebahagiaan yang pernah kamu tawarkan dan berikan. Dari membaca ulang semua status twitter saya, saya sungguh sadar, kamu pernah begitu berharga. Dan saya, pernah begitu bahagia.
Selasa, 11 November 2014
Cerpen : Pada Akhirnya
Karena memang pada akhirnya, akan ada yang tersenyum, dan harus ada yang terluka.
Berkali aku menatap bayang di cermin itu. Bahkan, gaun warna kelabu yang dikenakan gadis dalam cermin itu tidak bisa menutupi aura gembiranya. Gadis dalam cermin itu, aku.
Ku lirik sekali lagi jam di pergelangan kiri tanganku. 25 menit dari janjinya untuk menjemputku. Dan aku, sudah lebih dari sekedar siap.
Tak lama kemudian, telefon genggam di meja rias di depanku berbunyi. Dari Dion, pria yang 25 menit lagi akan makan malam bersamaku. Sesuai janjinya. Ada apa dia menelfon? Tidak biasanya.
“Halo? Iya, Di.. Kenapa?”
“Sorry, Dri.. Bisa kita batalin aja janjinya?” Katamu dengan suara pelan.
Lututku lemas seketika. Pupus sudah harapan menghabiskan malam berdua denganmu.
“Yah.. Kenapa, Di?”
“Rachel sakit, demam. Dari tadi sore ngeluh kepalanya pusing. Aku ga tega mau ninggalin dia.”
Seketika godam besar menghantamku. Menjadi yang kedua, memang tak pernah mudah. Dari awal, aku tahu. Semua memang tidak pernah berjalan dengan benar.
“Yaudah, deh.. Gapapa, Di..”
“Maaf banget ya, Dri.. kamu pasti uda siap berangkat, deh”
“Gapapa, kok, Di.. kasian Rachel sakit. Nanti kan kita bisa kapan-kapan lagi janjian.”
Dan baru sekali ini, dalam kurang lebih 2 tahun hubungan kita, kau menutup telefon tanpa mengucapkan salam perpisahan.
Aku menarik napas dalam. Berusaha mengusir lelah. Lelah karena menjadi yang kedua. Lelah karena lebih banyak dianggap tiada. Lelah karena selalu mengalah.
Bertahun aku tak pernah menjadi yang pertama. Tak pernah diutamakan. Selalu saja seperti ini. Selalu kalah dari bayangan seorang perempuan bernama Rachel. Istri Dion. Istri dari pria nomer 1 di hidupku saat ini.
Meskipun aku tau semua ini hanya membunuhku secara perlahan, tapi tetap saja aku dan otakku yang bodoh ini tidak bisa melupakan Dion. Selalu saja, setiap kali aku mau menyerah, detik itu pula Dion muncul di hadapanku dengan segala kharismanya, dan membuatku kembali luluh lantak.
Sama seperti kali ini. Maskara yang sudah terpasang rapi di mataku, kini hanya membuat wajahku menjadi seperti topeng badut yang menyeramkan. Menghancurkan segala kecantikan yang sudah ku persiapkan berjam-jam demi Dion.
Kali ini, aku kembali kalah.
————
Sudah 3 minggu berlalu dari kencan gagal itu. Dion tetap tidak menghubungiku dan tidak bisa dihubungi. Sudah cukup sabarku. Kalau sampai siang ini dia tetap tidak merespon telfonku, aku akan mendatangi kantornya.
Entah apakah memang kamu memiliki feeling yang kuat, atau semua hanya kebetulan. Ada nada dering dari telfon genggamku. Dari Dion.
“Hei. Kamu kemana aja kok ga bisa dihubungin 3 minggu ini?”
“Drina, maaf. Aku mau ngomong sesuatu. Aku rasa… kita harus sudahi apapun namanya ini. Apapun yang kita jalani ini. Semua salah. Semua tidak pada tempatnya.”
“Dion…. kamu ga ada kabarnya 3 minggu, dateng-dateng ngomong gini..”
“Maaf, Drina. tapi, Rachel hamil. Aku ga mungkin terus-terusan jalan sama kamu sementara istriku sedang hamil.”
Seketika ada petir menyambar dalam kepalaku. Kamu, tidak pernah menyebut Rachel sebagai istrimu. Tidak di hadapanku.
Sekian menit berlalu dalam hening. Dion, mungkin sudah tidak tahan lagi. Dia berkata, “Drina.. maaf. Aku harus memilih. Aku tahu dari awal hubungan ini ga seharusnya ada. Kamu ga seharusnya merasakan ini”
“Udahlah, Di. gapapa. Aku paham, kok. Aku mengerti,dari dulu aku memang selalu kalah. Bahkan dalam peperangan yang tidak pernah aku ikuti. Semoga kamu bahagia dengan Rachel. Semoga dia sehat terus sampai anak kalian lahir.”
Dion terdiam. Mungkin, dengan segudang penyesalan. Atau tidak sama sekali. “Sekali lagi, maaf, Drina. Dan terimakasih”
Aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk berkata-kata. Ku biarkan Dion memutuskan sambungan telefon. Aku juga tidak lagi mempunyai sisa tenaga sedikitpun bahkan untuk menangis. Dan kesedihan yang paling menyakitkan itu adalah kesedihan yang tidak dapat kau tangiskan.
Aku, menagisi perpisahan yang ku ciptakan sendiri.
Aku, melepas dia yang bahkan tidak pernah ku genggam sebelumnya.
Hancur rasanya. Jatuh, dan pecah berkeping. Tanpa pernah tergapai.
Selasa, 14 Oktober 2014
I Feel and Respect You, Jen..
Selama ini, tau Jennifer Aniston ya biasa aja. Filmnya ga terlalu ngikutin. Juga cuma tau aja dia mantan istri Brad Pitt. Udah. Yang saya suka banget kan sebenernya Angelina ya. Dari Mr and Mrs Smith uda suka banget sama dia.
Tapi akhir-akhir ini lagi gila sama F.R.I.E.N.D.S. (iya, telat 20 tahun. Napa sik) which is pemeran utamanya adalah Jennifer Aniston. Dia berperan jadi Rachel dan saya justru paling suka sama Rachel.
Iseng browsing youtube, kemudian ada interview pemeran F.R.I.E.N.D.S. di Oprah. Terus nonton kan, ada Jennifer bilang kalau dia susah sekali move on dari Rachel setelah F.R.I.E.N.D.S. selesai. Dari ekspresi dia sungguh saya tau dia tidak berpura-pura. Kemudian saya jadi mikir, dia kelar syuting aja segini sedihnya gabisa berperan jadi Rachel lagi. Apalagi waktu dia harus pisah sama Brad Pitt karna Angelina.
Selama ini, saya low respect sama orang-orang yang hobi nyalahin Angelina tentang pisahnya Brad sama Jennifer. But now i know, they both (by both i mean Jen and Brad) are very happy with each other, but then come Angelina and look whats happen.
Does not mean i hate Angelina. Are you kidding? I do love her. But now, i truly respect and i think i can feel what Jennifer feels. Now i understand those hardcore fans who talked "for me, Brad and Jennifer's wedding is the one and only Brad Pitt's wedding"
Dear Jen, i feel you. Sorry for everything. I really glad to know that you have fiance and you happy know. You do deserve that.
Dear Rachel, keep stupid. I like that about you.
*balik lagi nonton F.R.I.E.N.D.S. currently in the middle of season 4. Man, these show are good show. I've planned to buy an original dvd so my children can see it someday and can have a good laugh like i did*
Tapi akhir-akhir ini lagi gila sama F.R.I.E.N.D.S. (iya, telat 20 tahun. Napa sik) which is pemeran utamanya adalah Jennifer Aniston. Dia berperan jadi Rachel dan saya justru paling suka sama Rachel.
Iseng browsing youtube, kemudian ada interview pemeran F.R.I.E.N.D.S. di Oprah. Terus nonton kan, ada Jennifer bilang kalau dia susah sekali move on dari Rachel setelah F.R.I.E.N.D.S. selesai. Dari ekspresi dia sungguh saya tau dia tidak berpura-pura. Kemudian saya jadi mikir, dia kelar syuting aja segini sedihnya gabisa berperan jadi Rachel lagi. Apalagi waktu dia harus pisah sama Brad Pitt karna Angelina.
Selama ini, saya low respect sama orang-orang yang hobi nyalahin Angelina tentang pisahnya Brad sama Jennifer. But now i know, they both (by both i mean Jen and Brad) are very happy with each other, but then come Angelina and look whats happen.
Does not mean i hate Angelina. Are you kidding? I do love her. But now, i truly respect and i think i can feel what Jennifer feels. Now i understand those hardcore fans who talked "for me, Brad and Jennifer's wedding is the one and only Brad Pitt's wedding"
Dear Jen, i feel you. Sorry for everything. I really glad to know that you have fiance and you happy know. You do deserve that.
Dear Rachel, keep stupid. I like that about you.
*balik lagi nonton F.R.I.E.N.D.S. currently in the middle of season 4. Man, these show are good show. I've planned to buy an original dvd so my children can see it someday and can have a good laugh like i did*
Rabu, 01 Oktober 2014
Mengenai Masa (Lalu, Sekarang, Depan)
Baru-baru ini akhirnya meneguhkan hati download TimeHop, setelah selama ini ragu. Entah kenapa juga. Lebih karena pengen ngebaca secara random aja apa-apa yang pernah jari-jari saya tuliskan di laptop, handphone, tab. Di jejaring sosial seperti facebook dan twitter, yang mungkin saya yang dulu belum paham benar konsekuensinya.
Kemudian saya tersadar tentang masa lalu saya. Apa-apa yang pernah saya curahkan ke media sosial yang mana semua orang bisa bebas mengakses dan membacanya. Kemudian saya bingung, saya memang masih kecil dan belum paham konsekuensinya atau gimana sih? Kok lempeng banget nulis-nulis segala macam hal?
Ya tentang patah hati lah, ya nyumpahin orang lah, ya ngomong kasar lah. Ternyata saya dulu begitu toh.. *atau sekarang juga masih ya? entahlah*
Sadar akan akibatnya, kembali saya merenung. Tentang sesuatu bernama perkataan. Ucapan. Lisan. Yang kala kita ketik di sosial media, bisa saja dengan mudahnya kita hapus, meskipun ada kemungkinan sudah ada orang yang terlanjur melihatnya. Tapi perkataan? Sekali perkataan terlontar dari mulutmu, tidak ada kata mundur. Semua perkataanmu telah sampai ke telinga pendengar, tak peduli baik atau buruk.
Akhirnya saya paham, sudah saatnya berubah. Sudah saatnya memperbaiki saya yang sekarang agar masa depan saya bisa (semoga saja) menjadi seorang manusia yang lebih baik yang (semoga saja) bisa menjaga tutur kata. Karna sungguh, tidak semua orang paham bahwa sebuah perkataan bisa sangat menyakitkan.
Kemudian saya tersadar tentang masa lalu saya. Apa-apa yang pernah saya curahkan ke media sosial yang mana semua orang bisa bebas mengakses dan membacanya. Kemudian saya bingung, saya memang masih kecil dan belum paham konsekuensinya atau gimana sih? Kok lempeng banget nulis-nulis segala macam hal?
Ya tentang patah hati lah, ya nyumpahin orang lah, ya ngomong kasar lah. Ternyata saya dulu begitu toh.. *atau sekarang juga masih ya? entahlah*
Sadar akan akibatnya, kembali saya merenung. Tentang sesuatu bernama perkataan. Ucapan. Lisan. Yang kala kita ketik di sosial media, bisa saja dengan mudahnya kita hapus, meskipun ada kemungkinan sudah ada orang yang terlanjur melihatnya. Tapi perkataan? Sekali perkataan terlontar dari mulutmu, tidak ada kata mundur. Semua perkataanmu telah sampai ke telinga pendengar, tak peduli baik atau buruk.
Akhirnya saya paham, sudah saatnya berubah. Sudah saatnya memperbaiki saya yang sekarang agar masa depan saya bisa (semoga saja) menjadi seorang manusia yang lebih baik yang (semoga saja) bisa menjaga tutur kata. Karna sungguh, tidak semua orang paham bahwa sebuah perkataan bisa sangat menyakitkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
