Tidak, saya tidak benci kamu. Kalaupun ada orang yang harus dibenci, saya akan membenci diri saya sendiri. Yang begitu mudahnya membuagi waktu saya untuk kamu. Yang hanya bisa membuangnya secara sia-sia.
Tidak, saya tidak benci kamu. Sekarang, setiap melihat kamu, rasanya saya ingin memukul kepala saya sendiri, untuk waktu yang terbuang, untuk perhatian sia-sia, untuk kepercayaan yang begitu mudah saya bagi untuk kamu.
Saya membenci diri saya sendiri, yang begitu mudahnya terjebak dalam permainanmu. Saya benci hati saya, yang begitu cepat percaya.
Dan sampai sekarang, yang belum saya maafkan adalah diri saya sendiri.
There is a lot of pain caused of you. But then i realise, there won't be that much of pain if i didn't put my hope that high.
Kepada kamu, yang dulu begitu mudah datang, dan sama mudahnya pergi, saya tidak membenci kamu. Tidak. Yang saya benci adalah diri saya sendiri.
Post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 12.
tak selalu tentang warna. karena hidup, lebih banyak mengajarkan kepadamu tentang hitam putih.
Senin, 21 Juli 2014
Minggu, 20 Juli 2014
My Beloved Grandma who i never knew
Nama lengkap saya Chyntia Christina Darongke. Tidak banyak yang tau nama tengah saya, Christina. Selama ini, saya selalu menulis nama saya hanya Chyntia Darongke, entah mengapa. Seperti kebiasaan saja. Kalaupun saya menulis nama lengkap, akan saya tulis Chyntia Ct. Darongke. Tidak menuliskan Christina secara lengkap. Padahal, Christina itu adalah nama Oma saya. Oma, yang tidak pernah sempat saya kenal.
Saya lupa, saya bisa tau mengenai Christina adalah nama Oma saya dari siapa. Ayah saya, beliau tidak pernah mau berbicara tentang hal ini. Entah mengapa. Samar-samar yang saya tau, profesi Oma saya adalah seorang perawat, sama seperti Ibu saya sekarang. Oma saya, meninggal karna kapal yang tenggelam, dalam sebuah perjalanan yang saya pun tidak tau hendak kemana. Beliau, membungkus dirinya dengan selimut saat tidur, yang tidak memungkinkan beliau bergerak sama sekali. Padahal, beliau adalah perenang handal yang seharusnya sangat bisa menyelamatkan diri kalau kapal tenggelam. Beliau lahir dan besar di kota kecil di Sulawesi Utara yang dikelilingi oleh pantai. Laut, adalah setengah dari kehidupannya.
Sungguh, saya sama sekali tidak ingat siapa yang memberitahu saya hal ini. Tapi, orang ini berkata, "Oma mau, anak perempuan pertama ayahmu bernama sama seperti beliau" Dan sungguhlah, a deceased person that i wish i could talk to is her. Saya ingin tau tentang beliau. Tentang kehidupannya, tentang masa kecil ayah saya, tentang segala sesuatu yang ayah saya selalu simpan rapat tanpa tau penyebabnya. Saya ingin beliau mengajarkan apa-apa yang orang tua saya tidak ajarkan kepada saya. Saya ingin memeluknya, melihat wajahnya, mendengar suaranya..
Oma, yang tenang ya disana.. semoga saya berhasil membuat Oma bangga. Semoga Oma seneng ketemu Tuhan Yesus di surga.. salam sama semuanya ya, aku jagain papa baik-baik.
Post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 11.
Saya lupa, saya bisa tau mengenai Christina adalah nama Oma saya dari siapa. Ayah saya, beliau tidak pernah mau berbicara tentang hal ini. Entah mengapa. Samar-samar yang saya tau, profesi Oma saya adalah seorang perawat, sama seperti Ibu saya sekarang. Oma saya, meninggal karna kapal yang tenggelam, dalam sebuah perjalanan yang saya pun tidak tau hendak kemana. Beliau, membungkus dirinya dengan selimut saat tidur, yang tidak memungkinkan beliau bergerak sama sekali. Padahal, beliau adalah perenang handal yang seharusnya sangat bisa menyelamatkan diri kalau kapal tenggelam. Beliau lahir dan besar di kota kecil di Sulawesi Utara yang dikelilingi oleh pantai. Laut, adalah setengah dari kehidupannya.
Sungguh, saya sama sekali tidak ingat siapa yang memberitahu saya hal ini. Tapi, orang ini berkata, "Oma mau, anak perempuan pertama ayahmu bernama sama seperti beliau" Dan sungguhlah, a deceased person that i wish i could talk to is her. Saya ingin tau tentang beliau. Tentang kehidupannya, tentang masa kecil ayah saya, tentang segala sesuatu yang ayah saya selalu simpan rapat tanpa tau penyebabnya. Saya ingin beliau mengajarkan apa-apa yang orang tua saya tidak ajarkan kepada saya. Saya ingin memeluknya, melihat wajahnya, mendengar suaranya..
Oma, yang tenang ya disana.. semoga saya berhasil membuat Oma bangga. Semoga Oma seneng ketemu Tuhan Yesus di surga.. salam sama semuanya ya, aku jagain papa baik-baik.
Post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 11.
Jumat, 18 Juli 2014
Dear, Teteh..
Someone you don't talk as much as you'd like to for me is maybe Teteh. Saya pikir, saya mengenal dia. Seluruhnya tentangnya. Apapun tentang dia. Nyatanya, saya hanya melihat puncak dari gunung es, sementara sisa dari bagian gunung es itu disembunyikan dengan sangat baik oleh laut.
Saya, ngefans sama teteh sejak 2005. Saya lupa apa penyebab awalnya, tapi, saya sudah begitu jatuh cinta pada dia sejak lama. Suaranya, wajahnya, tawanya. Begitu sempurna. Dulu, saya hanya tau ngefans saja. Punya CD atau kasetnya, hafal lagunya..
Kemudian masuklah ke dunia ini teknologi bernama facebook. Saya pun ikut larut dalam euphoria bersama sekian banyak orang lainnya. Ikut heboh main facebook. Dan Rossa pun ikut-ikutan. Ada satu official facebook dimana dia benar-benar memegang akun tersebut. Dan hebohlah kami ini. Di facebook, saya pertama kali berinteraksi langsung dengan teteh. Pertama kali dapat teman-teman sesama fans Rossa. Pertama kali, merasa seolah begitu kenal dengan teteh.
Padahal, tau apa saya ini tentang dia. Makin kesini, berteman dengan orang-orang dalam, beberapa kali bertemu langsung dengan beliau, saya jadi makin tahu, seperti apa teteh sebenarnya. Jadi terlihatlah, teteh juga manusia. Dia yang saya anggap sosok yang begitu sempurna, ternyata juga punya kelemahan. Meskipun saya tetap menerima dia apa adanya dia dengan tangan terbuka.Tapi sungguhlah, puncak gunung es itu masih tebal berselimut salju.
Jadi, dear teteh, yuk, ngopi-ngopi bareng, seharian. Kita ngobrol semua tentang teteh. Biarkan saya bertanya pertanyaan yang selama ini menganggu saya, dan sudilah teteh untuk menjawabnya. Gimana? *senyum manis*
Saya, ngefans sama teteh sejak 2005. Saya lupa apa penyebab awalnya, tapi, saya sudah begitu jatuh cinta pada dia sejak lama. Suaranya, wajahnya, tawanya. Begitu sempurna. Dulu, saya hanya tau ngefans saja. Punya CD atau kasetnya, hafal lagunya..
Kemudian masuklah ke dunia ini teknologi bernama facebook. Saya pun ikut larut dalam euphoria bersama sekian banyak orang lainnya. Ikut heboh main facebook. Dan Rossa pun ikut-ikutan. Ada satu official facebook dimana dia benar-benar memegang akun tersebut. Dan hebohlah kami ini. Di facebook, saya pertama kali berinteraksi langsung dengan teteh. Pertama kali dapat teman-teman sesama fans Rossa. Pertama kali, merasa seolah begitu kenal dengan teteh.
Padahal, tau apa saya ini tentang dia. Makin kesini, berteman dengan orang-orang dalam, beberapa kali bertemu langsung dengan beliau, saya jadi makin tahu, seperti apa teteh sebenarnya. Jadi terlihatlah, teteh juga manusia. Dia yang saya anggap sosok yang begitu sempurna, ternyata juga punya kelemahan. Meskipun saya tetap menerima dia apa adanya dia dengan tangan terbuka.Tapi sungguhlah, puncak gunung es itu masih tebal berselimut salju.
Jadi, dear teteh, yuk, ngopi-ngopi bareng, seharian. Kita ngobrol semua tentang teteh. Biarkan saya bertanya pertanyaan yang selama ini menganggu saya, dan sudilah teteh untuk menjawabnya. Gimana? *senyum manis*
Selasa, 15 Juli 2014
I wish i could meet you, God.
Saya harap saya dapat bertemu denganMu, Tuhan. Dan bertanya, "apa kabar? bagaimana harimu? menyenangkan kah?"
Saya harap saya dapat bertemu denganMu, Tuhan. Dan berbincang. Tentang segala sesuatu. Bagaimana perasaanmu saat menciptakan aku, bagaimana rasanya menulis barisan takdir hidupku dan milyaran orang lainnya. Berbincang, tentang, segala takdir, yang mungkin saja Kau tulis dengan hati-hati. Yang, mungkin saja, Kau tulis hanya dengan nalar dan insting-Mu.
Berbincang tentang dunia dan seisinya yang maha dahsyat. Tentang betapa ketergantungan kami akan diriMu, sementara sekian banyak orang (termasuk saya) terkadang lupa akan Engkau. Lupa bersyukur. Lupa berterimakasih. Atas sesuatu sesederhana oksigen yang tidak bisa kami bayangkan hidup kami tanpa benda tersebut, dan bahkan kami dapatkan setiap detik secara gratis, sebagai hadiah dariMu.
Berbincang tentang, bercandakah Engkau, tentang kehidupan. Karna Engkau adalah Maha Segalanya, bukan? Tidakkah itu termasuk Maha Humoris?
I wish, i could meet you, God. Having a coffee break, and talk, about everything. About all the reason when something happen in my life. Because everyone say something happen for a reason, and sometimes, i really wish so hard that i could know the reason. That's why i want to meet you, God. Even for just asking, "how you doing?"
Dan bertanya, "tidakkah Kau lelah?"
Post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 9.
Saya harap saya dapat bertemu denganMu, Tuhan. Dan berbincang. Tentang segala sesuatu. Bagaimana perasaanmu saat menciptakan aku, bagaimana rasanya menulis barisan takdir hidupku dan milyaran orang lainnya. Berbincang, tentang, segala takdir, yang mungkin saja Kau tulis dengan hati-hati. Yang, mungkin saja, Kau tulis hanya dengan nalar dan insting-Mu.
Berbincang tentang dunia dan seisinya yang maha dahsyat. Tentang betapa ketergantungan kami akan diriMu, sementara sekian banyak orang (termasuk saya) terkadang lupa akan Engkau. Lupa bersyukur. Lupa berterimakasih. Atas sesuatu sesederhana oksigen yang tidak bisa kami bayangkan hidup kami tanpa benda tersebut, dan bahkan kami dapatkan setiap detik secara gratis, sebagai hadiah dariMu.
Berbincang tentang, bercandakah Engkau, tentang kehidupan. Karna Engkau adalah Maha Segalanya, bukan? Tidakkah itu termasuk Maha Humoris?
I wish, i could meet you, God. Having a coffee break, and talk, about everything. About all the reason when something happen in my life. Because everyone say something happen for a reason, and sometimes, i really wish so hard that i could know the reason. That's why i want to meet you, God. Even for just asking, "how you doing?"
Dan bertanya, "tidakkah Kau lelah?"
Post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 9.
Senin, 14 Juli 2014
Day 8 : Favorite Internet Friend
Agak sensitif kalau berbicara soal teman. Satu-satunya geng sahabat yang belum pernah mengecewakan saya itu Marcia, geng sahabat saya dari kecil yang saya ceritakan di sini. Yang lain? Bisanya cuma kasih harapan-harapan palsu saja. Cuma mencari keuntungan, ninggalin kalau saya lagi sedih, tapi kalau mereka sedih maunya dekat-dekat dan memanfaatkan saya. Kalau lagi senang, lupa punya teman namanya Chyntia. Kalau lagi sedih, saya yang dicari pertama untuk dimintai bantuan. Gapapa. Wesbiyasak.
Tapi kali ini, ada seseorang. Sebut saja dia Iansebenernya emang orangnya minta disebut gitu. Sst, jangan bilang-bilang orangnya, ya. Berawal dari saya follow dia di twitter, di accept, kemudian begitu saja. Lalu kemudian karna kesukaan kami yang sama akan sesuatu, saya minta nomer kontak dia karna ada sesuatu yang ditanyakan.
Tidak disangka, orangnya lucu. Kalau saya chat sama dia, ketawa-ketawa sendiri sudah lumrah rasanya. Selera humor kami sama, meski terpaut usia yang agak berbeda #dilemparbomatom. Tapi serius. Ini gatau karna Ian ini kekinian, apa saya yang terlalu jadul.
Kalau sudah cerita atau membahas sesuatu, bisa kayak novel. Satu hal yang dia gatau, waktu dia cerita panjang nulis sesuatu, saya kebetulan lagi masak. Jadi saya minta tolong temen saya membacakan. Trus temen saya bilang, "dih, panjang banget cyn. baca sendiri aja" masih suka ketawa kalau ingat hahaha.
Dan entah kenapa, saya juga seperti mudah sekali terpancing menceritakan sesuatu. Kadang sampe bengong "ini tadi aku cerita sama dia nih hal ini?" Tapi, ya gitu. Kalau uda cerita seperti mengalir saja. Mungkin emang orangnya asik diajak curhat.Gausah GeEr.
Jadi, ngikutin tema hari ini, sejauh ini teman internet favorit saya masih Ian ini. Selalu nyaman ketika ngobrol dengan dia. Semoga dia ga guling-gulingan di kasur ya baca posting ini.
Post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 8
Tapi kali ini, ada seseorang. Sebut saja dia Ian
Tidak disangka, orangnya lucu. Kalau saya chat sama dia, ketawa-ketawa sendiri sudah lumrah rasanya. Selera humor kami sama, meski terpaut usia yang agak berbeda #dilemparbomatom. Tapi serius. Ini gatau karna Ian ini kekinian, apa saya yang terlalu jadul.
Kalau sudah cerita atau membahas sesuatu, bisa kayak novel. Satu hal yang dia gatau, waktu dia cerita panjang nulis sesuatu, saya kebetulan lagi masak. Jadi saya minta tolong temen saya membacakan. Trus temen saya bilang, "dih, panjang banget cyn. baca sendiri aja" masih suka ketawa kalau ingat hahaha.
Dan entah kenapa, saya juga seperti mudah sekali terpancing menceritakan sesuatu. Kadang sampe bengong "ini tadi aku cerita sama dia nih hal ini?" Tapi, ya gitu. Kalau uda cerita seperti mengalir saja. Mungkin emang orangnya asik diajak curhat.
Post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 8
Minggu, 13 Juli 2014
Day 7 : Hei..
Hei.. hari ini giliran saya menceritakan tentang kamu. Duduk manis, ya. Siapkan teh hangat yang paling kamu suka itu. Ah, aku masih hafal bagaimana membuatnya. Manis yang kamu inginkan, kepekatan yang kamu inginkan.. Bersiaplah membaca. Karna ini, tentang kamu.
Hei.. aku, harus mulai darimana untuk menceritakan kamu? Aku tidak tahu. Tidak bisa memilih satu kata, yang bisa membuka cerita ini. Bagaimana kalau, terimakasih? Ya, terimakasih. Terimakasih, sudah pernah menerima aku, seperti adanya aku. Terimakasih, untuk waktu indah yang sudah pernah kamu berikan untuk saya.
Hei.. sudah berapa lama berlalu sejak waktu itu? Waktu di mana kita berdua marah. Marah satu sama lain. Marah pada keadaan. Marah pada waktu. Marah yang membuat saya kehilangan kamu. Sudah berapa lama? Terasa lama kah bagimu? Karna bagi saya, ya. Melanjutkan semua hal ini tanpa kamu sound really bullshit to me. Saya seperti manusia yang berjalan karena harus berjalan. Tidak untuk mencapai tujuan tertentu.
Hei.. boleh aku bertanya sesuatu? Menyesalkah kamu, atas waktu yang sudah kamuberi buang untuk aku? Karna aku, tidak. Sekian waktu bersamamu adalah indah. Tidak pernah sedikitpun saya menyesal. Kalaupun ada sesal, mungkin karena saya begitu mudah melepas kamu dulu. Sampai sekarang selalu menjadi pertanyaan besar yang tidak pernah saya temui jawabannya.
Hei.. kamu, sekarang bahagia? Karna sungguh, aku ingin kamu iya. Jangan lagi buang waktumu untuk gadis yang tidak penting seperti aku. Kamu sendiri kan yang bilang, kamu mau serius? Tidak mau membuang waktumu untuk hal remeh temeh? Ah, ini yang paling saya suka dari kamu. Kedewasaan kamu. Dalam menghadapi masalah, dalam menghadapi hidup, dalam menghadapi sayadulu.
Hei.. tersenyumlah. Karna tanpa sadar, saya selalu reflek tersenyum setiap kali melihat (atau membayangkan) senyummu. Karna saya bangga pada diri saya, berhasil menulis posting ini dengan senyum. Itu kan yang kamu inginkan? Atau bukan? Ah, nampaknya saya sudah kurang mengenal kamu sekarang.
Selamat malam. Jangan tidur telat ya, besok kamu kerja kan..
post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 7.
Hei.. aku, harus mulai darimana untuk menceritakan kamu? Aku tidak tahu. Tidak bisa memilih satu kata, yang bisa membuka cerita ini. Bagaimana kalau, terimakasih? Ya, terimakasih. Terimakasih, sudah pernah menerima aku, seperti adanya aku. Terimakasih, untuk waktu indah yang sudah pernah kamu berikan untuk saya.
Hei.. sudah berapa lama berlalu sejak waktu itu? Waktu di mana kita berdua marah. Marah satu sama lain. Marah pada keadaan. Marah pada waktu. Marah yang membuat saya kehilangan kamu. Sudah berapa lama? Terasa lama kah bagimu? Karna bagi saya, ya. Melanjutkan semua hal ini tanpa kamu sound really bullshit to me. Saya seperti manusia yang berjalan karena harus berjalan. Tidak untuk mencapai tujuan tertentu.
Hei.. boleh aku bertanya sesuatu? Menyesalkah kamu, atas waktu yang sudah kamu
Hei.. kamu, sekarang bahagia? Karna sungguh, aku ingin kamu iya. Jangan lagi buang waktumu untuk gadis yang tidak penting seperti aku. Kamu sendiri kan yang bilang, kamu mau serius? Tidak mau membuang waktumu untuk hal remeh temeh? Ah, ini yang paling saya suka dari kamu. Kedewasaan kamu. Dalam menghadapi masalah, dalam menghadapi hidup, dalam menghadapi saya
Selamat malam. Jangan tidur telat ya, besok kamu kerja kan..
post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 7.
Sabtu, 12 Juli 2014
Day 6 : Stranger.
Tema hari ini stranger. Mengingatkan saya akan hobi aneh saya, mengamati orang asing, bahkan mengobrol dengan mereka. Menurut saya, mengamati manusia menyenangkan. Perhatian seorang ibu kepada anaknya, sepasang kekasih yang asik berangkulan tangan dalam kereta, 2 orang laki-laki yang berjalan bergandengan dan merasa dunia milik berdua.. Apa saja. Apa saja yang bisa mencuri perhatian saya.
Salah satu kisah dengan stranger yang saya paling ingat adalah kisah ini. Saya, punya hobi aneh. Membawa sebuah novel, es krim (atau kopi) dan kemudian duduk di taman KLCC. Bukan, bukan untuk memandang menara kembar yang begitu tersohor itu. Tapi hanya duduk, membaca novel. Kadang kalau isengnya kumat, bawa kamera. Foto-foto apa saja yang bisa difoto. Duduk di sana itu racun. Untuk saya yang gemar memandang tingkah laku orang, tempat itu seperti perpustakaan yang menyimpan berbagai macam buku, berbagai macam warna.
Ada yang heboh karna baru pertama kali datang kesana, berusaha menangkap semua momen dalam kamera mereka. Ada serombongan keluarga, kesemuanya menampilkan ekspresi bahagia, karna bisa bersama menikmati sore yang indah di taman itu. Ada sepasang kekasih yang sibuk mengatur kamera dan tripod mereka, berusaha mengambil gambar mereka serta menara sampai puncakya.. Bermacam-macam.
Suatu sore, saya sibuk meniup kopi panas saya, ketika ada sepasang bule yang sudah agak tua meminta tolong saya mengambil gambar mereka. Batin saya berkata pastilah mereka ingin seperti orang lain, difoto sampai nampak ujung menara kembar itu. Berlagaklah sok fotografer saya. Lalu kemudian dia berkata "no no, you don't need to do that. just take the twin tower as close as you can. we just want to have the picture of ourself. you don't need to take the whole tower" lalu saya berkata, "you sure? i can make it if you want to" lalu si pria menjawab "i'm sure." saya ambillah foto mereka biasa aja, hanya berlatarkan sedikit bentuk menara, yang mana kalau orang melihat tidak akan sadar bahwa itu adalah twin tower.
Selesai dia melihat hasil fotonya, saya kepo dong ya. Bertanyalah saya, "sorry, do you mind if i ask you something?" dan dengan semangat dia berkata "sure.. sure. ask me anything" lalu saya tanya, "why you don't want to take the whole tower? if people see your picture they wouldn't know that was twin tower" dan kemudian mengalirlah cerita dia. Ternyata, setiap tahun dia selalu berkunjung ke Malaysia. Setiap ulang tahun pernikahan mereka. Pasangan ini, rupanya bertemu dan jatuh cinta di Malaysia. Kemudian selalu merayakan ulang tahun pernikahan mereka di sini.
See, selalu ada cerita manis kalau saja kamu mau membuka telingamu dan mendengar. Selalu ada pemandangan indah kalau kamu membuka mata dan tidak berhenti memandang di satu tempat. Selalu ada pelajaran berharga yang bisa kamu petik, kalau saja kamu mau lebih belajar memahami.
Post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 6.
Salah satu kisah dengan stranger yang saya paling ingat adalah kisah ini. Saya, punya hobi aneh. Membawa sebuah novel, es krim (atau kopi) dan kemudian duduk di taman KLCC. Bukan, bukan untuk memandang menara kembar yang begitu tersohor itu. Tapi hanya duduk, membaca novel. Kadang kalau isengnya kumat, bawa kamera. Foto-foto apa saja yang bisa difoto. Duduk di sana itu racun. Untuk saya yang gemar memandang tingkah laku orang, tempat itu seperti perpustakaan yang menyimpan berbagai macam buku, berbagai macam warna.
Ada yang heboh karna baru pertama kali datang kesana, berusaha menangkap semua momen dalam kamera mereka. Ada serombongan keluarga, kesemuanya menampilkan ekspresi bahagia, karna bisa bersama menikmati sore yang indah di taman itu. Ada sepasang kekasih yang sibuk mengatur kamera dan tripod mereka, berusaha mengambil gambar mereka serta menara sampai puncakya.. Bermacam-macam.
Suatu sore, saya sibuk meniup kopi panas saya, ketika ada sepasang bule yang sudah agak tua meminta tolong saya mengambil gambar mereka. Batin saya berkata pastilah mereka ingin seperti orang lain, difoto sampai nampak ujung menara kembar itu. Berlagaklah sok fotografer saya. Lalu kemudian dia berkata "no no, you don't need to do that. just take the twin tower as close as you can. we just want to have the picture of ourself. you don't need to take the whole tower" lalu saya berkata, "you sure? i can make it if you want to" lalu si pria menjawab "i'm sure." saya ambillah foto mereka biasa aja, hanya berlatarkan sedikit bentuk menara, yang mana kalau orang melihat tidak akan sadar bahwa itu adalah twin tower.
Selesai dia melihat hasil fotonya, saya kepo dong ya. Bertanyalah saya, "sorry, do you mind if i ask you something?" dan dengan semangat dia berkata "sure.. sure. ask me anything" lalu saya tanya, "why you don't want to take the whole tower? if people see your picture they wouldn't know that was twin tower" dan kemudian mengalirlah cerita dia. Ternyata, setiap tahun dia selalu berkunjung ke Malaysia. Setiap ulang tahun pernikahan mereka. Pasangan ini, rupanya bertemu dan jatuh cinta di Malaysia. Kemudian selalu merayakan ulang tahun pernikahan mereka di sini.
See, selalu ada cerita manis kalau saja kamu mau membuka telingamu dan mendengar. Selalu ada pemandangan indah kalau kamu membuka mata dan tidak berhenti memandang di satu tempat. Selalu ada pelajaran berharga yang bisa kamu petik, kalau saja kamu mau lebih belajar memahami.
Post ini ikut-ikutan 30 Days Writing Challenge nya @TekoAjib day 6.
Langganan:
Postingan (Atom)