biarlah gelas menjadi saksi; betapa ku mencinta(mu)

biarlah gelas menjadi saksi; betapa ku mencinta(mu)
karena cinta yang sederhana tidak pernah menuntut.

Sabtu, 23 Desember 2017

2017 Dan Segala Keajaibannya

2017

Untuk saya, 2017 diawali dengan kasar. Dengan hati penuh marah, dengan ketenangan yang pergi meninggalkan saya sejak penghujung tahun 2016. Keluhan, kemarahan, dan kesedihan adalah kawan karib saya selama awal tahun 2017. Memutuskan untuk melanjutkan sekolah atau kembali ke Kuala Lumpur untuk bekerja merupakan keputusan berat yang harus saya pilih.

Pada bulan keempat tahun 2017, akhirnya saya membuat nazar, bahwa jika saya lulus ujian masuk perguruan tinggi, artinya Tuhan menyuruh saya untuk lanjut sekolah dulu daripada bekerja lagi. Baiklah.

April sampai Mei 2017 merupakan bulan yang berlalu secepat kilat. Persiapan ujian masuk perguruan tinggi sungguh menyita waktu saya. Belajar dari siang sampai malam hanya untuk persiapan ujian.

Setelah ujian selesai, saya tenang menunggu pengumuman dengan prinsip bahwa apapun yang terjadi, itu adalah jalan Tuhan untuk saya.

Sampai kemudian saya dinyatakan lulus. Babak kehidupan baru dimulai, saya pindah ke Depok, hijrah dan memulai lagi kehidupan baru dari 0. Tanpa teman, tanpa keluarga. Sendiri. It’s KL all over again.

Setelah sebelumnya sangat sangsi bahwa saya akan menemukan teman-teman asik di perkuliahan saya, saya ditampar oleh kenyataan bahwa jangan sekali-sekali mencoba mendahului Tuhan. Siapa sangka, di Depok saya mendapat teman-teman seperjuangan sekolah lagi yang luar biasa asiknya. Asik diajak kerja, asik diajak main, lucu, menghibur, meriah… Dan, duh, jujur saja, 4 tahun saya di KL jadi seperti tidak ada apa-apanya dibanding rasa yang saya invest ke teman-teman saya selama 4 bulan di Depok ini.

2017, seperti tahun-tahun lalu. Berhasil menampar saya dengan tamapran terkerasnya. Berhasil menjorokkan saya hingga saya hampir menyerah di ujung tebing dan hampir memutuskan untuk lompat. Tapi, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya bangkit setelah ditampar. Saya berpegang erat pada tali penahan yang tidak seberapa kuat setiap kali kehidupan dengan caranya sendiri selalu bisa mendorong saya ke tepi tebing. Saya, bertahan.

Saya menutup 2017 dengan rasa terimakasih kepada semesta. Atas teman-teman yang baik. Atas kehidupan yang baik. Atas segala tugas dan ujian yang melelahkan tapi berhasil saya lalui. Atas rasa bahagia yang saya pikir tidak mungkin saya rasakan lagi.

Saya menutup 2017 dengan hati yang hangat.


Dear 2018, bring it on. I’m ready.

Selasa, 24 Oktober 2017

Jakarta adalah

Jakarta itu keras.
Jakarta adalah tentang belajar menerima diri sendiri apa adanya.
Jakarta adalah tentang berlari berkejaran dengan waktu, melihat siapa yang berhasil mencapai garis akhir terlebih dahulu.
Jakarta adalah tentang berdesakan, menerima bahwa kau harus membagi dunia ini dengan jutaan orang asing lainnya.
Jakarta adalah hal belajar, bahwa mencintai diri sendiri itu penting.
Jakarta adalah tentang menerima bahwa pada akhirnya, dirimu sendiri yang harus menarikmu dari keterpurukan.
Jakarta adalah tentang memasang headset yang memainkan lagu kesayangan, dengan volume yang membuatmu lupa akan dunia sekitar.
Jakarta adalah tentang egois, sekaligus tentang menjadi baik dan ramah kepada sesama orang asing.
Jakarta adalah tentang belajar bahwa kesendirian itu hal yang biasa saja.
Jakarta adalah tentang mencoba.
Mencoba memahami bahwa saat kau merasa kau punya masalah paling berat di dunia ini, di luar sana masih banyak yang berperang dengan masalah yang jauh lebih berat.

Rabu, 02 Agustus 2017

Berjalan Tanpa Kamu

Tahunan saya belajar berjalan tanpa kamu.

4 tahun saya habiskan, tertatih, belajar berjalan tanpa kamu. Belajar mencari tahu seperti apa rasanya melalui seminggu penuh tanpa sehari pun bertemu kamu. Mencari tahu seperti apa rasanya bulan berjalan tanpa saya duduk di bangku kantoria, mendengar samar suaramu, mematuhi panduanmu di paduan suara. Mencari tahu seperti apa rasanya setahun berlalu dan aku hanya mempunyai kesempatan bertemu denganmu sejumlah yang bahkan tidak memenuhi jumlah jari tanganku.

4 tahun saya jalani, dengan janji dan harapan pasti bahwa semua akan berakhir. Bahwa saya akan merasakan lagi yang namanya latihan paduan suara dua kali seminggu. Saya akan merasakan lagi tugas pelayanan kantoria di gereja sebulan sekali. Saya akan merasakan lagi setiap hari rabu bertemu deganmu, beribadah bersama.

1 tahun belakangan ini, tahun terbaik yang pernah saya alami di hidup saya. Hubungan kita yang setelah terpisah 4 tahun menjadi semakin lebih dekat. Saya jadi lebih sering nempel-nempel denganmu. Kamu jadi lebih sering memanggil panggilan sayang kepada saya. "dek", "cyn", "sayang", adalah panggilan yang sangat wajar terdengar darimu saat memanggilku. Posisi kita yang berdekatan dan tidak bisa tanpa saling nempel seperti prangko. Entah kamu yang bersender kepada saya. Entah saya yang meletakan kepala saya di bahumu, entah kita berpelukan.. saya merasa begitu bahagia, begitu dekat, begitu berarti buatmu.

Tidak pernah terbayangkan bagi saya ajan mengalami lagi perpisahan yang saya ciptakan sendiri ini untuk kedua kalinya denganmu. Maafkan aku, sungguh. Kali ini, periodenya akan lebih pendek. Lagipula, aku akan selalu pulang. Aku sudah membuktikannya, kan?

I love you. Deeply. Dearly. Your words when you said this was our last birthday we celebrate together before our separation broke my heart. But in two years, i'll be back. i'll be here again. coming to you. coming home.

Senin, 26 Desember 2016

Recap 2016

2016 ini... gimana ya jelasinnya.... 2016 ini seperti Draco Malfoy. nyebelin. sok-sokan. tapi ganteng. tapi nyebelin. ya, gitu.

Headline paling menarik di 2016 tentu saja LULUS KULIAH OMG OMG OMG I DID IT. Rasanya seperti ga percaya waktu selesai ujian tertulis terakhir sebagai anak kuliahan. It felt amazing and weird at the same time. Karena jujur, saya tidak yakin suatu hari nanti saya akan selesai menjalani kuliah saya ini. Lulus kuliah tentu saja dibarengi dengan wisuda, yang sebenarnya ga heboh-heboh amat, sih, baru S1 ini. Kalau udah PhD baru deh nanti kita heboh, yah.
Saya menuliskan cerita tentang wisuda saya. Bisa dibaca di sini.

Setelah lulus, terus ngapain? Oh, tentu saja. Kerja. Karena sama orang tua saya ga diizinkan untuk cari kerja sendiri (dengan alasan nanti keasyikan kerja dan lupa mau S2), akhirnya saya sementara kerja sama ayah saya. Hanya untuk mengisi waktu dan mengambil jeda sejenak sebelum saya lanjut S2. DAN TERNYATA.. KERJA ITU.... UWUUUUHHH. MENYEBALKAN SEKALI. Tapi ya sudahlah, jangan diisi keluhan saja postingan ini. Lanjut aja, yuk!

Salah satu yang saya syukuri di 2016 ini adalah moment saya mengenal orang baru dan mencoba sesuatu baru. Mengenal Liane Moriarty dan Colleen Hoover adalah salah satu yang paling saya syukuri. Mereka siapa, sih? Mereka penulis. Yang buku-bukunya luar biasa bagusnya.

Selain penulis, saya juga jadi kerajingan nonton tv series. Dulu, saya hanya tau F.R.I.E.N.D.S karena saya sebenarnya lebih suka nonton film, malas harus terpaksa mengikuti jalan cerita tv series yang jarang hanya sedikit. 1 season dengan belasan episode. Dan 1 tv series dengan banyak season. Tapi, di 2016, saya sangat menyesal kenapa saya baru mencoba mengikuti tv series.

Semua dimulai dari stress awal tahun di mana saya mempertaruhkan kewarasan saya yang sudah di ujung jurang karena satu pelajaran bernama Capstone. Untuk menjaga agar saya tidak gila, saya kok iseng subscribe Netflix, salah satu platform untuk nonton film dan tv series secara streaming. Niatnya sih hanya mau nonton film, eh tapi kok ada satu judul dengan icon yang menarik. Judulnya Grey's Anatomy. Dan ketika saya check ratting-nya, lah, kok tinggi? Timbullah kemudian niat iseng saya nonton season 1, karena waktu itu kebetulan cuma 7 episode. Sedikit dong ya...

TERNYATA EH TERNYATA, GREY'S ANATOMY ITU ADDICTIVE BANGET. Saya habis nonton 3 season dalam 2 hari, di tengah kegilaan capstone. Saya tidak keluar kamar 2 hari (bahkan tidak untuk makan) dan juga tidak tidur karena saya marathon 3 season Grey's Anatomy. dan series ini adalah salah satu alasan saya tetap waras meski sudah dihempa oleh capstone sedemikian rupanya. Ceritanya bisa dibaca di sini.

Setelah 11 season Grey's habis saya tonton, saya mulai browsing dan tanya sana sini tv series apa lagi yang bisa saya tonton. Kebetulan waktu itu Capstone dan thesis saya sudah selesai, jadi hanya tinggal menunggu administrasi kampus sebelum saya pulang. Jadilah saya nonton Sherlock, Castle, Supernatural, Sense8, How To Get Away With Murder, Scandal, The Catch.... semua series itu saya habiskan sepanjang 2016. Series sebanyak itu, dan masing-masing punya beberapa season dengan jumlah episode yang berbeda. Hanya satu kata yang bisa mewakilkannya. AMAZING.

Di tv series itu juga saya menemukan sahabat-sahabat terbaik saya. Karakter dari tv series yang saya rasa jauh lebih mengerti saya daripada orang-orang di kehidupan nyata saya. Cristina, Beckett, Sherlock, Nomi, Mary, Meredith, Castle, Arizona, April, Dean.. semua itu sahabat saya. Saya sayang sekali sama mereka.

Di 2016 ini juga saya mencoba satu hal yang saya pikir tidak akan pernah saya coba. Membaca ebook. Dulu saya sempat berfiikir bahwa orang yang suka membaca buku tidak akan membaca ebook. Tapi begitu saya sadar saya sudah terlalu lelah kehabisan tempat untuk menyusun buku saya, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba membaca ebook. Dan saya jatuh cinta. Akhir tahun 2016 ditutup dengan saya membelikan Kindle sebagai hadiah natal untuk diri saya sendiri dan dengan resolusi bahwa saya akan lebih banyak membaca ebook dan mulai mengurangi membeli buku fisik.

Recap dari 2016 dalam satu kalimat adalah, 2016 was me, riding in a two road. Side by side. One way going strong and fast to the future, and the other way regretting all the decision i made. But most of all, i'm grateful. Despite how broke my heart at this year is, despite how many times i cried, i'm okay. Because at the end, i'll always be okay.

P.S: izinkan saya merenungi betapa 2016 was a shitty year, somehow. Yang paling menghancurkan hati saya adalah cerainya Brad Pitt dan Angelina Jolie, dan juga Amanda Abbington dan Martin Freeman. Love is dead for 2016. 

Jumat, 02 Desember 2016

Tentang Menikah Dan Memiliki Anak

22 tahun hidup saya, (well, 22 tahun 6 bulan, but who's counting?) saya belum terpikir untuk menikah. Kalaupun saya cukup beruntung suatu hari nanti untuk menemukan seseorang yang dengannya saya rela menghabiskan sisa hidup saya bersamanya, saya hanya ingin menikah, dan (mungkin) tanpa punya anak.

Kenapa?

Well, first of all, i come from a broken home. Not divorced broke, but my family is broken. Saya tidak ingin menghabiskan entri ini dengan berkeluh kesah, tapi intinya, keluarga saya membuat saya akan berfikir ulang 1000 kali sebelum memutuskan untuk punya anak nanti.

22 tahun hidup saya, tidak pernah saya bertemu dengan seseorang yang dengannya saya terlintas ide untuk menghabiskan hidup bersama. Saya sebegitu egoisnya. Sebegitu mementingkan diri sendiri, sedangkan dalam pernikahan, bukankah hal yang paling terlarang untuk kau lakukan adalah menjadi egois? Saya belum menemukan dia yang untuknya saya rela mendahulukan dia dan menempatkan diri saya bukan sebagai poros utama.

Tapi, beberapa bulan belakangan ini, saya mulai berubah pikiran. Ini semua karena keluarga besar Ellie dan Jared.

Ellie dan Jared itu vloggers, seorang kreatif yang memberikan keseharian mereka dalam format video untuk konten hiburan. Saya bukan tipe orang yang suka nonton video blog orang lain, karena pada intinya saya lebih suka baca daripada nonton, tapi dengan Ellie dan Jared ini berbeda. Berawal dari sekitar satu tahun lalu, saya tanpa sengaja menyaksikan satu video dari Ellie dan Jared, tentang Surprise Pregnancy Announcement. Di video itu saya melihat Jared, sang suami, yang sangat bahagia dan terkejut atas kabar hamilnya Ellie, mencium perut Ellie. Detik itu, saya membatin "damn, i'm sold" karena sungguh, saya lemah dengan seorang suami yang begitu bahagia ketika tau istrinya hamil. Berawal dari video itu, saya jatuh cinta pada Jackson, putra pertama mereka. Dan sejak saat itu saya menjadi penonton tetap vlog mereka.

Ini Jackson, natal 2 tahun lalu. Dia waktu itu masih berumur 1 tahun. Sekarang Jackson sudah jauh lebih dewasa dan lebih pintar.

NOW I BELIEVE YOU FELL IN LOVE WITH HIM TOO!

Berawal dari Ellie dan Jared, mereka menganut kepercayaan Mormon. Aliran Kristen yang percaya bahwa menikah di usia muda dan memiliki anak banyak adalah hal yang baik. Jared sendiri mempunyai 5 saudara dan Ellie punya 4. Sekilas melihat keluarga mereka saat kumpul bersama, saya jadi begitu ingin mempunyai keluarga besar.

Keluarga dari pihak Jared.

Keluarga dari pihak Ellie. 5 anak dan 17 cucu. TUJUH BELAS. Tapi terlihat seru dan menyenangkan, ya?


Salah satu addiction terbaru saya adalah Ruby, kakak pertama dari keluarga Ellie. Ruby menikah di usia 18 tahun, dan sekarang usianya 35 tahun dan sudah punya 6 anak. Yes, you didn't read it wrong. She has 6 kids. SIX. In this economy. Can you imagine? They don't have much, just enough. You can clreary see it if you watch the video. But they have each other. And that is more beautiful and important than all the money in the whole world.

You have to watch their vlog. Hanya untuk mengetahui betapa mereka adalah keluarga yang sangat manis. Sangat sangat sangat patut dijadikan keluarga idaman. They love each other so much.





They called their family 8 Passangers.

So, yes. I've been thinking of NOT having any child IF i get married one day. But for now, yeah, maybe 5 or 6 wouldn't be so bad. xD

Rabu, 14 September 2016

I Did It

4 tahun lalu, pertengahan tahun 2012, tepatnya 25 Juni 2012, saya berangkat ke Malaysia. Dengan penuh semangat, saya merasa bumi hanya sebutir debu di bawah telapak kaki saya. Merasa penuh kekuatan, menantang dunia. Merasa 4 tahun yang akan saya jalani untuk kuliah akan berlalu menyenangkan. Ternyata, saya salah.

Hanya perlu sekitar satu tahun untuk saya menyadari bahwa keputusan saya untuk kuliah ke Malaysia adalah keputusan yang salah. Oh, tunggu dulu. Itu sebenarnya bukan keputusan saya. Seperti yang saya pernah ceritakan, keinginan saya dari dulu (sejak Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas) hanyalah kuliah di Jogja atau Malang. Ya, sesederhana itu. Keputusan mendadak orang tua saya bahwa lebih baik saya belajar luar negeri begitu tiba-tiba, sehingga rasa yang ada bukanlah rasa takut atau khawatir, tapi rasa semangat. Deg-degan akan memasuki dunia baru, mempelajari hal baru, kuliah dengan jurusan yang sudah saya impingan dan inginkan sejak kecil, menjadi pemacu adrelanin saya untuk satu tahun pertama.

Sampai kemudian saya memasuki tahun kedua. Perasaan homesick pun mulai menyerang. Saya selalu ingin pulang setiap ada liburan, tidak perduli sesingkat apapun liburan itu. Satu tahun, saya bisa 4-5 kali pulang. Melelahkan, memang. Tapi saya sungguh tidak betah berada lama-lama di sana. Tidak hanya mulai merasa tidak betah, pelajaran tahun kedua yang mulai menyusahkan pun membuat saya semakin lelah.

Tahun ketiga, semua semakin buruk saja. Selalu ada hal kecil maupun besar yang saya permasalahkan. Perasaan tidak betah dan ingin segera terlepas dari dunia perkuliahan membuat saya kalap, mengambil semua mata kuliah (selama masih diijinkan), berlari dengan waktu, berharap segala usaha saya bisa mempersingkat waktu saya berada di sini daripada yang seharusnya.

Sampai memasuki tahun ke empat. Pelajaran semakin rasanya membunuh saya secara perlahan. Last Year Project membuat saya mengucapkan selamat tinggal untuk sementara kepada tidur teratur (dan nyenyak) serta makan yang teratur tanpa harus memikirkan pelajaran. Waktu 24 jam terasa kurang, tugas yang menggunung berikut skripsi rasanya tidak pernah memberi saya waktu untuk bernapas. Saya menjadi semakin sinis. Tidak ada rasanya hal di dunia ini yang mampu membuat saya bahagia. Target utama saya hanya melesaikan semua ini. Karena sudah terlalu jauh bagi saya untuk memutar balik dan kembali ke garis awal.

Sampai kemudian hari itu datang. 25 Juni 2016, hari terakhir saya menjadi seorang mahasiswa di Kuala Lumpur. Iya, aneh rasanya, saat tahu tanggal pulang saya yang terakhir kali dari Malaysia dengan status mahasiswa sama persis dengan tanggal saya datang pertama dengan status mahasiswa 4 tahun lalu. Sebegitunya semesta ini suka bercanda.

Hari terkahir, 25 Juni 2016, akhirnya saya tidak lagi merasa marah. Saya memang sempat marah, menyesali semua keputusan saya. But, at last i did it. Its all the matters, isn't it? Karena saya hanya perlu mencapai garis finish. Karena saya berhutang hal itu kepada orang tua saya, dan terutama diri saya sendiri.

Saya beruntung, saya hanya membenci keadaan. Setidaknya saya mencintai jurusan kuliah saya. Saya tahu persis ada banyak kawan-kawan atau adik/kakak kelas saya yang merasa salah jurusan, sehingga mereka terlalu malas untuk menyelesaikan kuliah mereka. Kebencian saya sebenarnya adalah salah satu faktor baik, yang memaksa saya menyelesaikan kuliah secepat mungkin.

Saya hanya mau berkata, untuk kalian semua. Saya bisa selesai tepat waktu bukan karena saya beruntung. Saya bekerja. Sama atau bahkan lebih lelah dari kalian. Karena setidaknya, kita berhutang untuk mencapai garis selesai itu, paling tidak kepada diri kita sendiri. We are all trying so hard to put other people first without thinking of ourselves, when the first thing we have to think is ourself. Its all the matters. Do what you happy about, finish what you've started. You are so close to the finish line, and believe me, nothing feel greater than when they put that goddamn hat in our head, as a symbol we did it. As the symbol we've made it to the finish line. As the symbol all the blood and tears finally pay off.

Minggu, 05 Juni 2016

Saya Dan Melayani.

Hidup saya, sejak kecil sudah dihabiskan di gereja. Mengikuti seabrek kegiatan keagamaan. Bukan mau sok religius, tapi memang iya. Sejak kecil entah kegiatan apa saja yang sudah orang tua saya berikan kepada saya, semuanya kegiatan gereja. Sekolah Minggu, kegiatan lomba anak-anak, paduan suara. Orang tua saya melakukan itu kurang lebih karena saya susah bergaul (iya, dari kecil uda introvert, diem). Saya hanya suka duduk diam di rumah, membaca buku, membaca majalah, apa saja kecuali keluar rumah. Tapi orang tua saya tahu, saya menemukan teman dan bisa enjoy jika saya mengikuti kegiatan gereja.

Umur 12 tahun, saya mulai menyikapi serius kegiatan pelayanan saya. Tidak hanya ikut paduan suara, saya les keyboard. Mimpi saya waktu itu ingin secepatnya menjadi pelayan sayap kiri di gereja, pelayan musik dan paduan suara. Pertama kali saya melayani main musik di gereja, saya umur 13 tahun. Dan saya tidak berbicara tentang main di gereja pusat, yang besar di tengah kota Samarinda. Umur dan pengalaman saya yang minim membuat saya menjadi (kasarnya) cadangan. Saya dikirim ke pedalaman Samrinda, yang hanya bisa diraih dengan perjalanan darat 2-3 jam (rata-rata) untuk main di pos pelkes, sebutan untuk gereja dari cabang di Samarinda. Gereja kecil, dengan jemaat para petani, atau orang tua yang bahkan sudah susah payah untuk berjalan ke gereja. Anak seusia saya biasanya malas pergi ke pos pelkes, meskipun terkadang orang tuanya dapat jadwal dari gereja untuk berkunjung ke pos pelkes. Ya karena itu, jauh, dan cuma liat hutan, tidak ada yang menarik. Di fase kehidupan saya yang ini, saya benar-benar belajar apa itu melayani. Karena sungguh, melayani tidak kenal tempat, tidak kenal lelah.

2 tahun kemudian, saya mulai menjadi pemain musik tetap di gereja pusat. 1 bulan, saya bisa mendapat 2-3 kali jadwal bermain di hari minggu. Di luar kegiatan rutin latihan paduan suara sektor Emaus saya, waktu saya komplit tersita oleh kegiatan-kegiatan ini. Di saat teman-teman seusia saya sibuk mengatur waktu untuk jalan bersama, saya selalu saja terhalang oleh "wah, nanti malam aku latihan.." atau "wah, gabisa, aku ada ibadah" selalu seperti itu. Dan hal ini membuat saya mempunyai sangat sedikit teman di masa sekolah saya. Tidak, saya tidak mengeluh.

Sedikitpun tidak.

Saya menjerumuskan diri saya dalam pelayanan. Merasa kurang menjadi pemain musik, saya mengabdikan diri menjadi "seksi sibuk". Ini seksi di mana tugasnya hanya kemana-kemana mengikuti perintah yang lain, karena dalam acara besar di gereja, saya masih belum cukup umur menjadi panitia. Jadi saya tidak pampang nama, tapi ikut bekerja sama kerasnya dengan mereka. Tidak ada spesifik job untuk saya, saya hanya mengerjakan apa saja yang diperintahkan kepada saya. Angkat kursi, bawa kotak makanan, siapin minuman, merapikan meja, tugas apapun, mereka tinggal meneriakan "Cyn!" dan saya otomatis akan datang ke mereka. Dengan bahagia dan senyum.

Masa remaja saya praktis saya habiskan dengan kegiatan ini. Pontang panting kesana kemari demi menyelesaikan tugas pelayanan saya, berdua bersama sahabat saya, pindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, kami jalani dengan bahagia. Sungguh, tidak ada yang bisa membayar harga bahagia yang kami dapatkan saat tau acara yang kami atur sedemikian rupa dengan peluh keringat berakhir sukses.

Saya cinta melayani. Sungguh. Dan hati saya remuk dan hancur ketika saya berangkat untuk belajar di Malaysia. Sungguh pedih meninggalkan sejenak dunia pelayanan. Menghibur diri dengan "nanti pelayanan di Malaysia" sempat membuat saya tenang, sampai saya melihat sendiri situasi sebenarnya di sini.

Saya di sini hanya tergabung di paduan suara, dan itupun jauh dari ekspektasi saya. Mereka melayani karna harus, bukan karena mau. Sangat terasa bedanya karena saya sudah bertahun-tahun melayani karena mau, dan saya menjalaninya dengan bahagia. Hal ini memakan saya hidup-hidup. Perlahan. Satu-satunya obat saya hanya setiap saya pulang ke Indonesia (yang untungnya sering itu) dan ikut pelayanan dengan Emaus. Itupun biasanya 1 kali pulang hanya dapat 1 kali tugas. Gapapa. Udah cukup untuk nge-charge battery saya untuk menunggu sampai kepulangan selanjutnya.

Di umur sekarang, saat teman-teman saya membicarkan apa saja yang mereka lakukan saat sekolah, dan saya hanya bisa bercerita hidup saya dihabiskan untuk pelayanan, sedikitpun saya tidak menyesal. Mereka mendapat kesenangan, mendapat teman saat masa sekolah. Saya mendapat ketenangan jiwa dan saudara seiman, sesuatu yang bisa saya pegang sesisa umur saya.

Menyelesaikan kuliah, 1 yang paling saya tunggu lagi adalah saya yang siap menjerumuskan diri saya lebih dalam lagi ke pelayanan gereja. Mengabdikan hidup saya kepada Dia yang sudah memberikan saya kehidupan. Emaus, kita nyanyi dan pelayanan lagi, yah!

Rabu, 09 Maret 2016

she is the reason


I love this woman. i have a thousand reasons of why, and i'm not gonna list it one by one, you'll be dead by then, because that is an endless list.

Tapi, alasan paling utama saya jatuh sejatuh-jatuhnya pada perempuan ini adalah because she was there. she was there when i was all dark and twisty. she was there in my dark place.

tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata betapa melelahkannya semester ini untuk saya. semua tugas mahasiswa tahun akhir memakan saya perlahan. perlahan, tapi pasti. menghancurkan kepala saya, menghancurkan keyakinan saya bahwa semua akan baik-baik saja.

i was all dark and twisty. saya mati rasa. saya tidak tertawa, tidak tersenyum, bangun pagi dengan keluhan menjadi hal pertama yang saya lakukan. saya lelah, saya lelah teramat sangat, sungguh tidak dapat diungkapkan dengan kata.

and then there she comes, to my life, all cheerful and making me laugh, love and cry. she was there with me when nobody else was. she was there to keep me sane. i am so grateful for that.

she was there, when i almost cry of my assignments, she was there, making me laugh. making me smile, making me love her, making me forgot for my problems for a while..

i have a thousands reason why i love her. she is a role model. she is smart, passionate, amazing, slob snarky robot, she doesn't care, and that was make her charming. she can separate work and life. she doesn't get engaged, she doesn't get involved too easily, but once she does, she will fall completely fully with all of her heart and body.

she is me.

saya sungguh berterimakasih, untuk kehadirannya. untuk Cristina Yang, seseorang yang sungguh mampu membuat saya sedikit melupakan kenyataan kehidupan saya yang melelahkan.

You're one of the reason why i finished this semester alive and not losing my mind, Cristina..

Senin, 25 Januari 2016

I am Crushed.

ini, kalau yang ada di kepala ga dijadiin tulisan, aku bisa gila.

selama ini, suka menyangkal, kalau bukan dibilang selalu, bahwa saya belum siap dewasa. memang, belum. satu tv show ini bener-bener ngebantu saya ngeliat perspective lain dari adulthood. bagaimana menyingkapi hidup, betapa seringnya kita berbohong dengan diri kita, dengan orang lain.

Here is a truth about truths. It hurts. That is why you lie
lagi-lagi, kalimat di atas menampar saya tajam. tak terhitung berapa dusta dan kebohongan terlontar dari mulut saya, demi kenyamanan saya, demi kenyamanan orang sekitar saya.

hidup dewasa datang dalam satu paket. sakit, lelah, bahagia, menentukan pilihan.. semua tidak bisa dihindari.

here is the thing, jangan, jangan pernah berubah jadi seseorang yang bukan kamu. tidak akan pernah memberi dampak yang bagus untuk dirimu.

terus melangkah, meski sakit. terus melangkah, meski hatimu terasa berlubang, ada sesuatu yang hilang.

sadar, kamu punya pilihan. kehilangan dia, atau kehilangan dirimu sendiri.

kehilangan dia, kamu bisa sembuh, perlahan. luka itu akan sembuh. kamu akan makan seperti biasa, tidur seperti biasa, bangun seperti biasa.. sampai pada satu hari luka itu tidak lagi sakit.

ada luka yang tidak bisa sembuh. kepergiannya membuatmu terluka? he took a piece of you? never give it back to you? deal with it. you will be okay.

at the end, you will be free.

and eventually, she will always hold the carrot, and he will be chasing her. destroy his family. destroy his life, life that he never wanted. not without her.

Minggu, 03 Januari 2016

Mari Melepaskan

"Mari melepaskan, agar ada cukup tempat untuk menggenggam kembali"
Saul Raja Sinaga

Saya belajar banyak tentang melepaskan. Bukan sekali dua kali saya melepaskan. Dari hanya sekedar belajar melepaskan, sampai betulan melepas, dan di detik yang sama hati saya hancur, sebagiannya ingin masih terus menggenggamnya, memperjuangkan.

Tapi kemudian saya sadar, tangan saya hanya ada 2. Hati saya hanya ada satu. Terlalu banyak menggenggam akan menghancurkan saya sendiri. Saya, harus melepas yang tidak baik untuk saya. Untuk menggenggam yang baru, yang lebih baik untuk saya.

Lengkap sudah. Saya, bukan orang yang plin-plan. Terlalu tinggi harga diri saya untuk mencela sesuatu, kemudian balik mencintainya dengan gila, tanpa ingat betapa jahat saya sudah mencelanya kemarin.

Biarlah, saya bangga. Saya bangga telah berhasil melepaskan. Menggenggam yang baru, membawa kebahagiaan untuk saya. Saya merasa menjadi baru.

Biarlah, saya bangga. Saya bangga 10 atau 20 tahun kedepan saya bisa bangga menceritakan bahwa kamu pernah saya genggam sedemikian erat. Saya bisa berkata kepada anak saya, "Nak, dulu Mama ngefans sekali loh dengan dia. Tapi karena satu dan lain hal, Mama berhenti menyayanginya. Perkara waktu, sayang."

Biarlah, saya bangga. Pengalaman saya mengidolakan dia akan membuat saya mengerti, kalau suatu hari nanti anak saya memiliki seorang idola dan dia akan segila itu kepada idolanya.

Maaf, saya pergi. Kamu menempati tempat khusus di hati saya, saya tidak akan munafik untuk berkata kamu sudah seutuhnya pergi. Tapi sekarang, cukup dengan mendengar lagumu saja, ya. Sudah terlalu banyak saya membuang uang dan waktu saya untuk kamu. Bagi-bagi, ya. Kasian Pentatonix saya, baru 1 kali didatengin konsernya. Itu juga tiketnya jauh lebih murah dari konser-konser kamu yang pernah saya datangi.

Terimakasih, ya. Saya akan berusaha tegar dalam hidup ini. Seperti lagumu itu.

Rabu, 30 Desember 2015

2015.

Tidak terasa, hari ini sudah tanggal 31 Desember 2015. Hari terakhir di 2015. Hari yang membuat saya merenung, memikirkan apa saja yang sudah saya lakukan dan yang sudah terjadi di 2015 ini.

2015 merupakan tahun di mana saya membuang-buang waktu saya, seolah waktu adalah sesuatu yang bisa saya peroleh kembali. 2015 merupakan tahun di mana saya membuang waktu saya untuk hal tidak penting, dan disaat bersamaan juga saya berlari, marathon dengan waktu, mengejar kelulusan saya di kampus. Berkebut dengan waktu, berharap semua akan berjalan lancar dan studi saya akan habis pertengahan tahun 2016.

2015 merupakan tahun gado-gado bagi saya. Melupakan idola lama saya, setelah sekian tahun dia merupakan poros hidup saya. Memang ya manusia, tinggal tunggu jenuhnya saja. Padahal saya pikir, saya tidak akan pernah bisa lepas dari dia, loh.

2015 tahun saya punya obsesi baru. Meskipun rata-rata baru memulai obsesi sejak 2014, tapi baru tekun fangirling di tahun 2015 ini.

2015 ini saya datang ke konser live Pentatonix. Konser yang selamanya mungkin hanya menjadi mimpi saya. Tidak setitik pun datang pemikiran bahwa mereka akan datang ke negara saya dan mengadakan konser. Malam itu, 31 Mei 2015, saya kategorikan dalam deretan malam paling indah yang pernah terjadi di hidup saya.

2015 ini saya belajar, bahwa perasaan cinta kepada lawan jenis adalah hal yang bodoh untuk dikhawatirkan di umur sekarang. Iya, saya sudah 21 tahun. So what? Kuliah juga belum kelar.

2015 menempa saya menjadi sosok yang lebih sarkastis. Moto "I hate people" semakin saya junjung, mengingat beberapa manusia yang saya letakkan kepercayaan telah menghancurkannya berkeping, menyapunya seperti percaya bukan sesuatu hal yang penting.

2015 membuat saya merasa saya pantas kuliah pendeta. Masalah internal yang membuat saya percaya diri menyelesaikannya. Jungkir balik kisah hidup saya dan keluarga di tahun ini, entah mengapa membuat iman saya semakin kuat. Saya jadi semakin percaya ada satu kekuatan luar biasa yang mengatur jalannya hidup dan kehidupan. Betapa ajaib kekuatanNya.

2015, terutama akhir-akhir tahun ini, tahun terakhir kuliah saya. Tiada hari tanpa mengeluh, tiada hari tanpa lelah. Pontang panting kesana kemari demi menyelesaikan semua yang harus saya selesaikan, sampai rasanya saya tidak sanggup lagi memikirkan sesuatu hal yang bisa cukup kuat untuk membuat saya waras.

2015, berlalu seperti hanya seminggu. Saya merasa waktu berjalan terlalu cepat, tapi di saat bersamaan saya pun tidak dapat banyak mengingat apa saja yang sudah terjadi di tahun ini. Mungkin karena saya telah menutup rapat hati saya, menguncinya, dan tidak membiarkan sembarang orang (dan perasaan) masuk.

2015 yang indah. 2015 yang kuat. 2015 yang sedih, tapi bisa dilalui dengan baik. 2015 yang sedikit banyak telah mengubah saya menjadi sosok lebih baik (mungkin).

Terimakasih...
*menunduk sopan, berbisik terimakasih kepada alam, semesta, apapun yang telah berharmonisasi memberi hidup dan kehidupan*


dear 2016, saya siap.

Senin, 14 Desember 2015

Life Changing

Sejak tahun 2012 saya merantau ke negeri orang, sudah banyak sekali hal yang berubah dari diri saya. Sudut pandang, kepribadian, kemandirian.. Kalau sebelum merantau saya adalah anak manja yang semua maunya harus dituruti, sekarang sih, well, sama aja *halah*

Tapi ya gitu, i'm glad my parents send me aboard to study. Life changing yang sungguh changing me to be a better person.

Satu yang saya selalu khawatir sejak awal keputusan saya mau kuliah dan merantau adalah, "nanti gereja di mana, ya?" karena saya adalah orang yang (sok) religius. Tapi serius, 1 kali aja ga gereja, rasanya ga tenang seminggu kedepan, ada aja yang salah.

Saya udah khawatir banget, dan ternyata, tangan Tuhan jauh lebih ajaib daripada pemikiran manusia. Baru sekian menit sampai di sini, saya sudah langsung bertemu dengan saudara seiman, ya meskipun dia katolik dan saya protestan, tapi tetap saja, saya langsung tenang. "Wah, saya ada temen ke gereja!" pikir saya waktu itu.

Dan tara, Holy Family Church Kajang menjadi rumah saya sejak tahun 2012 sampai pertengahan 2015 kemarin. Gereja mereka yang katolik, yang notabene berbeda dari agama saya yang sebenarnya adalah protestan, tidak pernah menjadi masalah untuk saya. Karena di sana, saya menemukan keluarga. Saya menemukan semangat. Saya menemukan tawa, yang memotivasi saya, memberi saya semangat menjalani hari untuk seminggu kedepannya. Selain ibadah rutin hari minggu, kami selalu latihan paduan suara hari jumat. Dan setiap sabtu atau minggu setelah ibadah, kami luangkan waktu untuk rutin nongkrong bareng, mengakrabkan diri.

My second family.

Sedihnya, pertengahan tahun 2015 ini, bulan Juni lebih tepatnya, saya memutuskan angkat kaki dari gereja ini. Perpisahan itu bukan hal yang mudah. Perubahan juga bukan hal yang mudah, tidak semua orang menyukainya. Kepergian saya yang tanpa mengucapkan selamat tinggal menghancurkan hati saya sendiri. Saya menuliskan kisahnya di sini.

Sejak Juni 2015, saya mencari gereja baru. Lagi-lagi, tangan Tuhan yang ajaib itu menuntun saya. Perlahan, menuju rumahNya, tempat saya bisa memuji dan memuliakan namaNya. Terbawalah saya ke Gereja Berita Injil Antiokhia. Tempatnya, wiiih luar biasa jauh dari daerah rumah saya. Tapi itulah, tangan Tuhan bisa aja bawa saya kesana.

Di sana, lagi-lagi saya menemukan keluarga baru. Mereka yang menerima saya apa adanya. Mereka yang paham permasalahan saya. Mereka yang mau mendengar cerita saya. Mereka yang siap dengan sejuta leluconnya, membuat kami semua tertawa.

Di sana, saya menemukan kenyamanan baru. Perihal kami yang harus berputar sana sini, bolak balik stasiun kereta demi menempuh perjalan ke gereja sana, tidak pernah kami jadikan masalah. Rasa damai itu, mahal untuk didapat. Tidak akan saya buang begitu saja.

Keluarga baru saya.

Sedih, baru bertemu mereka di tahun terakhir kuliah saya di sini. Setelah ini, terserah tangan Tuhan mau membawa saya kemana. Tapi untuk sekarang, saya bersyukur, untuk keluarga baru saya. :)

*post ini ditulis setelah berhasil move on.. kemarin2 tiap hari minggu, dalam hati selalu ngomong "kangen holy family deh.. pengen gereja di sana, deh.."

Sabtu, 05 September 2015

Perihal Memberi

Ku beri kau segalanya.

Segala, seisi bumi;
Segala, setiap hela napas;
Segala, peluh keringat perjuangan;
Segala, percik darah pengorbanan;
Segala, tetes air mata;
Segala, rindu tak tersampaikan;
Segala, cinta tak terucap.

Kau beri aku satu;

Satu, maaf.

Kamis, 21 Mei 2015

Kepada Lelaki Yang Sedang Memperjuangkan Masa Depan

Kepada para lelaki di luar sana yang sedang memperjuangkan masa depan, topi saya terangkat tinggi untuk kalian.

Kepada kalian yang belajar mati-matian demi mengejar gelar demi karir masa depan yang lebih baik, berjuanglah.

Kepada kalian yang berusaha mati-matian memulai bisnis dari titik nol, berkutat dengan sistem untung dan rugi yang tidak bisa dihindari dari berbisnis, berjuanglah.

Kepada kalian yang terjebak jam kantor 7 pagi sampai 5 sore, duduk di belakang meja kerja dengan komputer dan tangan yang tidak berhenti mengetik pekerjaan, berjuanglah.

Kepada kalian yang belajar mengenai cara menyelamatkan hidup seseorang melalui bantuan kalian, berjuanglah.

Selesaikan apapun yang menjadi kewajiban kalian. Usahakan masa depan kalian secerah mungkin.

Karena kelak, ada perempuan yang rela meninggalkan rumahnya yang nyaman, orang tuanya yang begitu memperhatikan dia dan menyayanginya, demi kalian. Demi kalian tinggal-tinggal setiap hari saat kerja. Demi menjadi sasaran omelan kalian ketika ada sesuatu yang tidak beres dengan pekerjaan kalian. Demi menyuguhkan segelas teh hangat beserta sepiring kue setiap kalian pulang kerja. Demi menyiapkan baju kerja kalian saat kalian akan berangkat kerja.

Berjuanglah. Karena kelak kalian tidak hanya berjuang untuk hidup demi diri kalian sendiri, tapi juga demi istri dan anak-anak kalian.

Berjuanglah, dan jemput masa depan yang cerah itu.

Minggu, 17 Mei 2015

Sorry For Not Saying Goodbye Properly

Saya sungguh belum paham apa itu menjadi dewasa. Sungguh. Saya baru berusia 20 tahun, dan kalau boleh jujur, umur dan tingkat kedewasaan saya sungguh tidak berbanding.

Saya hanya seorang anak perempuan manja bermental usia belasan tahun yang terjebak di tubuh seorang perempuan yang (harusnya) beranjak dewasa.

Keputusan yang saya ambil, biasanya kebanyakan hanya berdasarkan emosi sesaat. Jarang saya pikirkan matang-matang. Jarang saya pikirkan konsekuensinya. Dan tidak jarang pula saya menyesal. Kali ini, satu lagi dari sekian banyak keputusan yang membuat saya menyesal.

Saya, yang dulu dengan tegasnya memilih meninggalkan mereka. 1 kesalahan seseorang, membuat saya sungguh tidak sanggup lagi berada dalam komunitas itu. Saya memilih pergi, sungguh dengan alasan kekanak-kanakan. Anak kecil dalam diri saya sungguh berhasil menang.

Dan sekarang, saya merindukan mereka. Tapi, saya menegaskan kepada diri saya. Ini keputusan yang saya ambil dengan begitu yakinnya beberapa bulan lalu. Biarlah, biar saya menikmati semua akibatnya.

Semoga saja ini bisa disebut belajar untuk beranjak dewasa. Karena saya yakin benar, kalau saya lagi-lagi membiarkan gadis kecil nan egois itu menang, saya akan memutuskan untuk kembali pada zona nyaman saya. Pada mereka yang sebenarnya sungguh tidak sebanding saya tinggalkan karena 1 masalah yang sebenarnya sama sekali bukan salah mereka.

Namun, biarkan malam ini saya mengaku. Saya rindu mereka. Sedikit banyak mereka punya tempat yang istimewa di hati dan hidup saya. Sedikit banyak, mereka yang membuat saya bertahan. Maaf, saya meninggalkan kalian untuk sesuatu yang bukan salah kalian. Maaf.

I'm sorry. Sorry for not say goodbye properly.

Rabu, 08 April 2015

Perihal Kecewa

Hari ini, saya memutuskan meninggalkan mereka. Mereka yang selalu bersama saya melayani Tuhan hampir 3 tahun ini. Meninggalkan mereka karena satu dan lain alasan yang sebenarnya justru tidak ada hubungannya dengan mereka. Ini perihal kecewa. Perihal kepercayaan yang sudah dengan mudahnya dirusak.

Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang mampu mengukur seberapa dalamnya rasa kecewa. Rasa sedih dan putus asa saat harapan satu-satunya dirusak begitu saja. Dan seberapa jauh dampak dari rasa kecewa itu.

Sungguh, saya sedih. Sedikit banyak, mereka adalah sumber tawa saya. Bertemu hanya satu atau dua kali seminggu, sudah cukup mengisi baterai saya seminggu kedepan. Betapa tertawa dan menyanyi bersama mereka menghibur saya.

Berat sekali meninggalkan mereka. Satu orang dari mereka merupakan salah satu endless crush saya, yang sudah sejak awal mula saya menginjakan kaki di gereja itu dan bertemu dia, sudah saya kagumi luar biasa. Dan rasa itu masih ada sampai sekarang. Berat sekali memikirkan bahwa saya tidak akan bertemu lagi dengan dia.

Ini, perihal kecewa, sayang. Tidak ada yang sanggup mengobati kepercayaan yang telah rusak. Tapi, saya harus kuat. Ini keputusan saya. Bukankah saya sudah sering belajar, bahwa
setiap pertemuan, pasti berakhir dengan perpisahan?
Terimakasih, kalian. Sekali lagi terimakasih.

i'm sorry i left. i do. sorry.

Selasa, 10 Februari 2015

Happy Birthday, You..

hey, you. it's been a year since i know you. not officially one year, but still, i've known you since last year. this year, suddenly 11th of February become a special day to me. it is your birthday. you, one of the amazing person i've ever known..

Jen, this year today, you turn 46. before this, i never believe a phrase "ages is just a number" but when it comes to your case, it is true. ages is truly just a number for you. in my eyes, you are still the same, as same as those Rachel who completely stole my heart. as same as before. as beautiful and shining as always.

Jen, in this post, i will not write anything but thanks, thanks to you. for everything you gave to me without even you realised. thanks, for the laugh you bring to me. for teaching me how important to be kind to everyone. how important to separate a smile all over the world. thanks for teaching me how independent a woman could be without a man.

thanks for teaching me how to be brave, even in the moment on your life when you feel so down and it feels like nobody is going to be there for you, but still, you have those faith that there is a person who actually care.

thank you, for everything, Jen. i'm just a brick on a wall, a star in the sky. nothing important to you. but you have no idea how important you are to me. you have no idea how you inspire me. in this post, let me send you a much much much love i know you will never ever feel, but at least it makes me feels good to know that you are happy, Jen. here i am, down in my knees, asking for your happiness, because you deserve to be. i really hope everything you trying on with Justin right now will soon become a thing, will soon you get.

i never think in my life there is a one person with beautiful blue eyes and blond hair that will stole my heart and make me love her with this much love. this is scaring me sometimes. it still scares me tho, how over 7 billion smiles, and yours still my favorite. you make me happy, because you exist in my world, and you make me sad because i don't in yours.

Happy Birthday, You. Jennifer Joanna Aniston. thanks for being born. thanks for being you. i love you, that much.


Jumat, 30 Januari 2015

Calm Down, It's Only Thug Week, Not Thug Life. (Sponsored By RC Design)

Mau curhat dulu. Permisi. Minggu ini, beban seperti ga habis-habis. Hanya karena 1 pelajaran, Reinforced Concrete Design yang sungguhlah saya pun tidak tahu apa bahasa indonesia nya. Tapi inti pelajaran ini adalah tentang mendesain tiang, dinding, dan tangga. Semua elemen dalam 1 bangunan. Minggu ini, deadline project kami. Dan dari awal project ini sudah membuat saya naik darah karena entah mengapa teman-teman saya yang biasanya menolong banyak malah membuat repot sana sini. Kurang tidur, tidur pun ga nyenyak, cuma karena pelajaran ini.

Deadline projectnya sendiri hari kamis, dan minggu lalu guru saya tercinta ini baru memberitahu kalau saya harus ikut test susulan hari jumat. Ini karena sebenernya, pelajaran ini ada midterm test tanggal 19 desember 2014. Jam 8 malam. Dan saya flight balik ke Samarinda, jam 8 pagi di hari yang sama. Dengan luar biasa pedenya, saya meninggalkan saja testnya. Sampai Samarinda, saya cerita sama mama saya. Dan mungkin mama saya dulunya termasuk mahasiswa yang banyak akal, dia menyarankan pakai saja surat sakit dari rumah sakit dia (dia bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Samarinda). Sebenrnya, ga yakin sih dosen saya bakal nerima. Itu kan surat sakit rumah sakit dari Indonesia gituloh, ketahuan banget kan bohongnya. Mana dosen saya ini killer pulak. Eh gataunya, dia terima loh :))

Jadi beban saya tambah berat saja minggu ini, hanya karena pelajaran ini. Dan ya, hari kamis malam, setelah paginya kumpul project dia, malamnya ada kelas pengganti dari dia, dong :)) dan hari jumat, setelah saya pagi test private dengan dia, malamnya pun ada kelas pengganti (lagi).

Semua jadi serba kebut-kebutan gini, karena minggu depan dia sudah tidak ada di kampus. Sudah mulai cuti melahirkan, karena sekarang dia sedang hamil besar. Yah sudahlah yah kami semua murid dia ini menjadi korban terburu-burunya semua hal.

Tapi Puji Tuhan, project kami yang kami presentasikan hari kamis kemaren, sukses. Tentu saja beban belum berkurang untuk saya. Jumat pagi masih test, bok :) so kamis malam saya masih habis-habisan belajar untuk test jumat pagi.

Jumat pagi, begitu beliau menyerahkan soal test kepada saya, beliau berkata "hurry, cepat buat. finish as fast as you can. saya nak pergi melayat" dan saya bengong. Sebengong-bengongnya. Bukannya tidak bersimpati karena salah satu dosen saya ada yang meninggal dunia, tapi ini soal dengan kurun waktu 2 jam, dan saya harus menyelesaikannya secepat mungkin. Tapi Puji Tuhan (lagi) saya bisa aja sih jawab soalnya. Bisa aja dulu, masalah bener atau salahnya belakangan aja :))

Thug Life belum berakhir. Jumat malam, saat kelas pengganti, hujan deras luar biasa macam rindu para pejuang LDR yang sudah tahunan ga ketemu pasangannya. Petir menggelegar luar biasa, dan TASH. Lampu kelas kami, metong alias mati. Ya. Bagus. Anehnya hanya lampu kelasnya saja yang mati. AC dan lampu untuk LCD Projector tetep nyala. Sepertinya ada yang eror dari sistem listriknya, karena sebelum lampu mati, ada kilat dan petir besar. Tentu saja dosen saya tercinta tetap ngotot menyelesaikan materi hari ini karena ini memang hari terakhir beliau mengajar, karena minggu depan sudah cuti. So, kami belajar dalam gelap-gelapan macam anak dusun dari desa terpencil. Berikut terlampir foto.


But, after all, like i just said, this only thug week, not thug life. Akhirnya selesai sudah semua penderitaan lengkap dengan segala drama yang menghiasi minggu ini. Dan semua ini hanya disponsori oleh satu pelajaran. Reinforced Concrete Design.

Kamis, 22 Januari 2015

Untuk Dia Yang Saya Kagumi Meski Tak Akan Pernah Saya Temui

Pagi ini, saya meneteskan air mata saya. Setetes, dua tetes, untuk dia yang tidak saya kenal. Tidak (akan) pernah saya temui, dan bahkan tidak tahu bahwa saya ada di dunia ini.

Untuk dia yang saya merasa begitu mengetahui segala tentangnya, padahal mungkin, seujung kuku pun tidak.

Untuk dia, yang kehadirannya baru saya hargai beberapa waktu lalu. Yang segala tentangnya menjadi menarik untuk saya baru beberapa lama ini.

Dia seorang perempuan luar biasa. Dengannya, saya bisa merasa dunia menjadi begitu tidak adil. Bagaimana hal buruk bisa terjadi kepada seseorang yang begitu baik. Bagaimana keadilan menjadi susah digenggam.

Kepadanya, pusat perhatian saya tersorot beberapa waktu belakangan ini. Apa adanya dia yang saya tahu, begitu membuat saya tidak habis fikir. Ternyata, sosok seperti ini nyata.

Kepadanya, tawa saya akhir-akhir ini bermula. Dan sampai sekarang, saya masih tidak percaya saya bisa punya cinta sebegini banyak unutk seorang yang belum pernah saya temui. Yang sungguhlah dunianya berberda dengan saya.

Untuknya, saya siap menutup telinga saya. Menjadi tidak perduli kepada orang-orang di luar sana yang mungkin saja menganggap saya berlebihan. Satu kelemahan saya, kalau sudah sayang sama seseorang, selalu berlebihan. Dan saya hanyalah orang bodoh kalau berusaha mengabaikan rasa ini. Dan jujur saja, saya begitu bangga mengakui betapa saya bisa punya rasa sayang sebegini banyak untuk orang tertentu. I'm shallow, i know :p

Tapi pagi ini, saya menangis. Untuk seseorang yang selama ini justru selalu hanya membuat saya tertawa. Dari tingkah lakunya dalam perannya, maupun kelakuan kesehariannya. Pagi ini, saya menangis, membaca sebuah wawancaranya. Betapa perempuan malang ini hanya ingin bahagia. Dan Tuhan, berikanlah dia bahagia. Karena dia sungguh pantas mendapatkannya. Seimbal dengan bahagia yang sudah dia sebar untuk saya dan sekian banyak orang lainnya.

The world loves you, and i'm just one star in the sky, one brick on a wall. but i love my world. and my world is you. My mom always warned me about the drugs on the street, but never about one with beautiful blue eyes and blond hair i'd fall in love with. here i am, down in my knees, ask to God for your happiness. because, you deserve to be..

dear Jen, i know this is silly, but i hope you feel this much love i send for you. I love you.

Kamis, 18 Desember 2014

Rachel Mencari Rachel.

Dalam episode, mungkin posting terakhir di 2014. tapi suwer deh kalau ada waktu, sebelum tahun baru diusahain nulis lagi. Kalau sebelum natal, maap maap aja ya, uda nyerah duluan. acara padet banget bruh.

Jadi kemaren pergi ke The Mines, mall andalan satu semesta jagat raya karna jaraknya yang deket luar biasa sama kampus, dan apa aja udah tersedia di sana, jadi jarang deh ke mall lain. Kecuali kalau iseng dan pengen chilin doang.

Pergi ke mines dalam rangka belanja baju natalan. Uda 2 kali jalan, belum nemu baju yang cucok. Dengan tinggi badan (di bawah) rata-rata, cewek nyebelin ini tetep kekeuh mau pake long dress, jadilah semua yang dicoba kalau bukan kepanjangan, model atau warnanya ga sreg. Berubung kemaren sudah tanggal 17, dan saya pulang tanggal 19 sementara tanggal 18 ada kelas sampai jam 10 malam, so bener-bener ga ada waktu lagi untuk cari baju selain hari itu.

Sampai mines, bukannya buruan cari baju, malah pake acara makan dulu (biasalah ya) terus pake acara ke depan bioskop, karena di sana ada poster Horrible Bosses 2 segede gaban, demen aja ngeliatnya. Mesti senyam senyum ga jelas tiap liat muka Jennifer di situ.

Biasanya cuma berani liat doang, ga pernah berani foto karena emang di situ tempat antri untuk beli tiket bioskop so pasti lah rame banget. Tapi mungkin karna hari kerja, jam kerja pula, eh sepi banget loh. Dan dengan ajaibnya, saya memutuskan selfie. Dengan gerakan yang mengagumkan karna saking cepetnya, saya selfie. Dengan muka sumringah. Bujug dari jauh juga keliatan banget deh muka bahagianya saya :))

Berubung foto sama Jennifernya langsung susah banget kan ya pasti (kalau mau ngomong halus dari ga mungkin) so berfoto dengan posternya sedikit menghibur.

Abaikan saya yang lupa lepas kacamata dan betapa close up nya muka saya. Ini juga uda setengah mati tauk nyatuin muka Jennifer sama muka saya di satu frame dengan gerakan cepat supaya ga diliat orang-orang :))

Ini mah namanya, Rachel mencari Rachel..

Dan dengan rendah hati mengakui, betapa saya menjadi oon banget setelah rutin gila dengan Friends. Ngikutin oonnya Rachel gitudeh. Dan gitu juga masih kekeuh nonton Friends terus :)) dan bisa bangganya memberi judul dari posting ga penting ini sebagai judul Rachel mencari Rachel.

By the way besok saya pulang kampung. Hati-hati juga ya yang mau natalan di rumah. Happy Holiday, salam buat keluarganya :) udah niat upload soundcloud dalam edisi natal kayak tahun lalu, tapi sibuknya dah ngalah2in eksekutip muda di perusahaan terkenal. so enggak dulu lah. kalau mau bisa download iTunes atau beli CD Pentatonix aja yang album That's Christmas To Me. lagu natalnya ketje ketje

Sekian post ga penting ini. Nulisnya tengah malam dan besok ke airport subuh2 huehehehe.

HAPPY HOLIDAY GAES.